Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perang Dagang Masih Bayangi Rupiah Pada 2020

Mayoritas analis menilai batas waktu kenaikan tarif impor AS untuk China pada 15 Desember menjadi titik penentu arah rupiah dan mata uang berkembang lainnya untuk membuka perdagangan pada awal tahun depan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Desember 2019  |  17:47 WIB
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan perang dagang AS dan China masih akan menjadi penggerak utama mata uang Garuda pada 2020.

Mayoritas analis menilai batas waktu kenaikan tarif impor AS untuk China pada 15 Desember menjadi titik penentu arah rupiah dan mata uang berkembang lainnya untuk membuka perdagangan pada awal tahun depan.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa pasar masih menantikan sinyal kesepakatan perdagangan antara AS dan China menjelang 15 Desember, batas waktu AS akan menaikkan tarif impor produk China.

Jika AS membatalkan pengenaan tarif impornya dan kedua negara berhasil menghasilkan kesepakatan perdagangan sebelum batas waktu tersebut, maka tentu lajur bullish akan berpihak terhadap rupiah.

Pada skenario tersebut, Ariston memprediksi rupiah dapat mengakhiri tahun ini di level Rp13.900 per dolar AS.

Namun, sebaliknya jika AS tetap akan menaikkan tarif impor produk China dan kedua negara batal membuahkan kesepakatan, rupiah terancam untuk terdepresiasi hingga tahun depan dan melayang di atas level Rp14.100 per dolar AS.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

“Tetapi, sejauh ini kabar negosiasi perdagangan AS dan China cukup positif sehingga mampu mendorong rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya menguat terhadap dolar AS,” ujar Ariston kepada Bisnis, Minggu (8/12/2019).

Dia mengatakan, belum lama ini pejabat China mengonfirmasi bahwa negosiasi dagang masih berlangsung cukup baik dan tidak terganggu oleh isu politik.

Ariston menilai kemungkinan kegagalan lahirnya kesepakatan dagang tahap pertama AS dan China tersebut adalah terkait besaran pembelian produk pertanian AS oleh China dan besaran tarif impor barang China yang bakal dihapus AS.

Sementara itu untuk pekan depan, Ariston menilai data Non Farm Payroll AS terbaru yang dirilis lebih baik  daripada perkiraan pasar dapat menarik rupiah untuk melemah jika pada awal perdagangan Senin (9/12/2019) tidak ada berita positif terkait kesepakatan dagang AS dan China.

Di sisi lain, sepanjang tahun berjalan 2019 rupiah telah berhasil mempertahankan keperkasaannya dengan menjadi tiga besar mata uang Asia dengan kinerja terbaik.

Rupiah telah menguat 2,5 persen, di bawah peso Filipina yang menguat 3,4 persen dan baht Thailand ang berhasil memimpin penguatan dengan terdepresiasi sebesar 6,5 persen.

Adapun, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (6/12/2019), rupiah berhasil ditutup menguat di level Rp14.038 per dolar AS, menguat 0,2 persen atau 30 poin.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa rupiah berpotensi mempertahankan posisinya hingga akhir tahun didukung oleh minat investor portofolio terhadap aset finansial Indonesia, terutama obligasi, tengah meningkat. Hal tersebut juga didukung oleh IHSG yang kembali bergerak di atas level 6.100.

Akibatnya, dia menilai posisi rupiah saat ini sudah lebih kuat dibandingkan dengan level fundamentalnya dan diprediksi bergerak di kisaran Rp14.000 per dolar AS hingga Rp 14.150 per dolar AS

“Namun, di sisa akhir tahun ini pergerakan tidak akan terlalu banyak karena kencederungan pasar yang sepi menjelang libur akhir tahun dan posisi demand-supply yang berimbang, kecuali jika terdapat kabar yang tidak terduga terkait perang dagang,” papar David saat dihubungi Bisnis, Minggu (8/12/2019).

DUTCH DISEASE

Selain itu, terkait komentar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yang menuturkan bahwa rupiah dapat kembali menyentuh Rp10.000 per dolar AS, David menilai potensi tersebut sesungguhnya dapat diraih rupiah.

Hanya, David menjelaskan bahwa mayoritas ekonom dan pelaku usaha, terutama di sektor riil, berharap rupiah bergerak relatif stabil daripada menguat tajam seketika karena akan menimbulkan ketidakpastian di pasar.

“Kalau di sektor riil itu cenderung lebih suka rupiah stabil saja supaya ada kepercayaan diri dalam melakukan investasi maupun konsumsinya, kecuali menguat ke bawah Rp10.000 per dolar AS terjadinya dalam jangka menengah panjang dan dalam tempo yang cukup lama, saya rasa masih tidak apa-apa,” papar David.

Jika penguatan terjadi dalam tempo yang cepat, lanjut David, itu akan mengganggu pasar, terutama terhadap daya saing produk ekspor dalam negeri sehingga memicu situasi dutch disease.

Apalagi, mengingat dalam tiga tahun terakhir hampir seluruh mata uang di dunia dalam tren penurunan terhadap dolar AS, maka penguatan itu akan menjadi bumerang bagi Indonesia.

Adapun, dutch disease merupakan fenomena yang merujuk pada akibat yang biasanya ditimbulkan oleh berlimpahnya sumber daya alam di suatu negara.

Negara eksportir seperti Korea Selatan, Jepang, dan China pun sesungguh lebih memilih mata uangnya cukup rendah dibandingkan terlalu kuat di hadapan dolar AS.

Oleh karena itu, dia menilai kembalinya rupiah ke bawah level Rp10.000 per dolar AS harus berdasarkan sisi fundamentalnya bukan hanya karena sebuah sentimen belaka dan harus terjadi dalam kurun waktu yang panjang.

“Justru yang harus menjadi perhatian Indonesia adalah bagaimana membuat mata uang kita menjadi kompetitif dibandingkan dengan negara eksportir lainnya, jangan sampai terjadi dutch disease dimana daya saing manufaktur di pasar ekspor jadi melemah,” ujar David.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top