Rusia dan China Luncurkan Jaringan Pipa Gas Raksasa

Gas mulai mengalir ke China melalui tautan tersebut. Hal ini pun telah menjadi simbol poros Presiden Vladimir Putin ke ekonomi Asia yang tumbuh cepat itu, saat hubungannya memburuk dengan barat.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  22:17 WIB
Rusia dan China Luncurkan Jaringan Pipa Gas Raksasa
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) memberikan es krim kepada Presiden China Xi Jinping sebagai hadiah ulang tahun sebelum konferensi Interaction and Confidence-Building Measures in Asia (CICA) di Dushanbe, Tajikistan (15/6/2019). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Rusia dan China mengukuhkan kerja sama energi dengan peluncuran pipa gas raksasa Power of Siberia. Rusia adalah eksportir gas alam terbesar di dunia, sedangkan China adalah salah satu konsumen utama dunia dari bahan bakar tersebut.

Gas mulai mengalir ke China melalui tautan tersebut. Hal ini pun telah menjadi simbol poros Presiden Vladimir Putin ke ekonomi Asia yang tumbuh cepat itu, saat hubungannya memburuk dengan Barat.

Pipa beroperasi dari cadangan Rusia yang sangat besar di Siberia timur, dengan panjang mencapai mencapai 3.000 kilometer (1.900 mil). Kehadiran jaringan pipa ini bakal membantu memenuhi kebutuhan energi China yang luas dan terus berkembang.

“Keran terbuka, gas sedang dipasok ke sistem transportasi gas di China,” kata Alexey Miller, kepala eksekutif Gazprom PJSC kepada Putin melalui video dari stasiun kompresi dekat perbatasan China seperti dikutip dari Bloomberg.

Gazprom, produsen gas terbesar Rusia, menandatangani kontrak US$400 miliar untuk memasok sebanyak 38 miliar meter kubik gas per tahun selama 30 tahun dengan China National Petroleum Corp. pada 2014, setelah lebih dari satu dekade perundingan. Hal ini adalah kontrak Gazprom terbesar yang pernah ada.

“Langkah ini membawa kerja sama strategis Rusia-China dalam energi ke tingkat yang sama sekali baru,” kata Putin kepada mitranya dari Tiongkok Xi Jinping melalui video.

Xi menyebutnya sebagai proyek tonggak untuk kerja sama energi bilateral.

Gazprom berencana untuk memulai dengan pengiriman 10 juta meter kubik sehari dan bertujuan untuk mencapai kapasitas puncak pada tahun 2025. Ekspor minimum ke China melalui pipa akan menjadi 5 miliar meter kubik pada 2020, kemudian 10 miliar pada 2021, dan 15 miliar pada 2022.

Gazprom belum mengungkapkan harga gas, tetapi Putin mengatakan itu akan dikaitkan dengan harga minyak, mirip dengan formula untuk konsumen Eropa. Sementara Rusia harus bersaing dengan pasokan gas alam cair (LNG) dari produsen seperti Qatar dan Australia di laut. Harapannya adalah pertumbuhan kebutuhan energi China akan membutuhkan lebih banyak saluran pipa dan kapasitas LNG.

Itu akan menguntungkan perusahaan Rusia lainnya seperti Novatek PJSC, yang mengembangkan LNG di semenanjung Yamal di Laut Kara.

Konsumsi gas di China, ekonomi terbesar di Asia, telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, ketika pemerintah menekan sektor rumah tangga dan pabrik beralih dari batu bara demi memerangi polusi udara.

Impor mencapai 43% dari total pasokan gas pada 2018, dengan sekitar dua per lima dari yang datang melalui pipa dari Asia Tengah dan Myanmar, dengan sisanya bersumber sebagai LNG.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas, china, rusia

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top