Dolar AS Tertekan, Ini Penyebabnya

Dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan di kisaran level terendahnya dalam satu pekan terhadap yen Jepang, di tengah tanda-tanda meningkatnya tensi perdagangan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  14:58 WIB
Dolar AS Tertekan, Ini Penyebabnya
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan di kisaran level terendahnya dalam satu pekan terhadap yen Jepang, di tengah tanda-tanda meningkatnya tensi perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, naik tipis 0,052 poin atau 0,05 persen ke level 97,908 pada perdagangan Selasa (3/12/2019) pukul 13.24 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Indeks dolar mampu sedikit beringsut ke zona hijau setelah terkapar di zona merah dengan berakhir melemah 0,42 persen atau 0,417 poin ke posisi 97,856 pada Senin (2/12).

Sementara itu, nilai tukar yen Jepang, yang dipandang sebagai safe haven di kala ketidakpastian geopolitik, terpantau terdepresiasi 0,18 poin atau 0,17 persen ke posisi 109,16 per dolar AS pada Selasa (3/12) pukul 13.34 WIB.

Meski terdepresiasi terhadap dolar AS, yen masih bergerak di kisaran level terkuatnya, setelah berakhir naik signifikan 0,47 persen di posisi 108,98 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/12).

Sentimen pasar terpukul setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan kejutan dengan rencana tarif terhadap impor dari Brasil dan Argentina, sehingga memunculkan kekhawatiran baru tentang ketegangan perdagangan global.

Melalui akun Twitter pada Senin (2/12), Trump mengatakan akan mengenakan tarif pada impor baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina, karena melihat "devaluasi besar-besaran mata uang” kedua negara tersebut.

Selanjutnya, pemerintah AS mengutarakan bahwa pihaknya berencana untuk meningkatkan pajak pada produk-produk Prancis senilai US$2,4 miliar, termasuk Champagne dan tas, sebesar 100 persen.

Langkah ini diambil setelah menentukan bahwa pajak layanan digital baru Prancis akan merugikan perusahaan-perusahaan AS seperti Google dan Apple Inc.

Kabar tersebut menambah tekanan pada sentimen pasar setelah pemerintah China memberikan respons atas dukungan AS terhadap demonstran di Hong Kong sehingga mengancam prospek tercapainya kesepakatan dagang ‘fase satu’ yang dinanti-nantikan.

Pada Senin (2/12), China menyatakan bahwa kapal dan pesawat militer AS tidak akan diizinkan untuk mengunjungi Hong Kong, serta juga mengumumkan sanksi terhadap beberapa organisasi non-pemerintah AS.

Pada saat yang sama, setelah ekonomi AS mampu menunjukkan tanda-tanda perbaikan, pasar dikagetkan oleh penyusutan aktivitas manufaktur bulan keempat berturut-turut serta penurunan tak terduga dalam pengeluaran konstruksi, sehingga melunturkan harapan bahwa ekonomi terbesar dunia itu telah stabil.

Institute for Supply Management (ISM) AS melaporkan bahwa indeks aktivitas pabrik nasional turun 0,2 poin menjadi 48,1 pada November, level di bawah 50 yang mengindikasikan kontraksi.

Tak hanya lebih rendah dari perkiraan ekonom dalam survei Reuters untuk kenaikan menjadi 49,2, raihan pada November juga lebih rendah dari level 48,3 pada bulan sebelumnya.

Data terpisah menunjukkan pengeluaran konstruksi turun pada Oktober karena investasi dalam proyek-proyek swasta jatuh ke level terendah dalam tiga tahun. 

“Data yang lemah memaksa banyak orang untuk melepaskan dolar AS dan memangkas kerugian,” ujar ahli strategi valuta asing Daiwa Securities, Yukio Ishizuki di Tokyo.

“Friksi perdagangan tetap menjadi ancaman yang bertahan lama. Ini tidak baik untuk sentimen pasar,” tambahnya.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi

3/12/2019

(Pk. 13.24 WIB)

97,908

(+0,05 persen)

2/12/2019

 

97,856

(-0,42 persen)

29/11/2019

 

98,273

(-0,10 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top