Ringkasan Perdagangan 19 November: IHSG Rebound, Rupiah Masih Loyo

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mmapu rebound dari pelemahannya dan ditutup menguat, namun rupiah masih tertekan di zona merah karena adanya pesimisme pasar terhadap kesepakatan perdagangan AS-China.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 November 2019  |  20:21 WIB
Ringkasan Perdagangan 19 November: IHSG Rebound, Rupiah Masih Loyo
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mmapu rebound dari pelemahannya dan ditutup menguat, namun rupiah masih tertekan di zona merah karena adanya pesimisme pasar terhadap kesepakatan perdagangan AS-China.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Selasa (19/11/2019):

 IHSG Ditutup Berbalik Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,48 persen atau 29,46 poin ke level 6.152,09, setelah dibuka rebound dengan penguatan 0,23 persen atau 14,31 poin ke level 6.134,94 dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (18/11), indeks mengakhiri pergerakannya di level 6.122,62 dengan koreksi tipis 0,09 persen atau 5,72 poin.

Sepanjang perdagangan hari ini Selasa (19/11/2019), IHSG bergerak pada kisaran 6.113,33-6.152,09.

Lima dari sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin olkeh sektor industry dasar yang menguat 1,25 persen dan finansial yang naik 1,01 persen. Empatg sektor lainnya melemah, dengan penurunan terbesar dialami sektor tambang (-1,03 persen).

Adapun sebanyak 163 saham menguat, 249 saham melemah, dan 250 saham stagnan dari 662 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Pasar Pesimistis Kesepakatan Dagang, Rupiah Lanjut Melemah

Rupiah melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (19/11/2019) terimbas pesimisme pasar terhadap kesepakatan perdagangan tahap pertama yang sampai saat ini belum terealisasikan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (19/11/2019) di level Rp14.091 per dolar AS, melemah tipis 0,085 persen atau 12 poin. Namun, sepanjang tahun berjalan masih bergerak menguat 2,12 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa kabar China yang merasa pesimistis untuk menyetujui kesepakatan tahap pertama dengan AS, menunjukkan masih terdapat risiko besar bagi pertumbuhan ekonomi global dan perkembangan perdagangan kedua negara tersebut tetap sulit dipahami.

Adapun, China berubah menjadi lebih pesimistis, terganggu oleh komentar Presiden AS Donald Trump bahwa tidak ada kesepakatan tentang penghapusan tarif secara bertahap.

Bursa Asia Menguat, Investor Tunggu Kejelasan Kesepakatan AS-China

Pasar saham Asia menguat pada perdagangan Selasa (19/11/2019), karena investor menunggu berita yang lebih jelas mengenai negosiasi AS-China untuk mencapai kesepakatan awal guna mengakhiri perang dagang.

"Ada sejumlah keraguan apakah kesepakatan fase pertama dapat dicapai," kata Wisnu Varathan, kepala ekonom dan analis di Asia Treasury Department, Mizuho Bank, seperti dikutip Reuters.

"Kecurigaannya adalah bahwa ada lebih banyak persoalan yang harus diperbaiki daripada yang diperkirakan sebelumnya," lanjutnya.

Sementara itu, harapan bahwa Beijing akan memberikan beberapa stimulus ekonomi memberikan dorongan terhadap gerak indeks.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 0,3 persen, dengan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 menguat masing-masing 0,85 persen dan 1 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 1,55 persen.

Di sisi lain, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,23 persen dan 0,53 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,34 persen. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) terpantau melemah 0,05 persen pada pukul 15.24 WIB.

Aksi Jual Masih Bayangi Harga Emas

Aksi jual masih membayangi perdagangan emas seiring dengan investor menanti sinyal kemajuan dalam negosiasi perdagangan AS dan China di tengah keraguan terkait ketidakpastian kesepakatan tahap pertama.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (19/11/2019) hingga pukul 16.33 WIB, harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,27% menjadi US$1.467, 54 per troy ounce, sedangkan harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex terdepresiasi 0,26% menjadi US$1.468 per troy ounce.

Analis Kotak Securities Madhavi Mehta mengatakan bahwa pelaku pasar saat ini  fokus terhadap batas waktu tarif impor AS untuk China pada 15 Desember yang semakin dekat. Pasar menanti beberapa bentuk kesepakatan nyata antara kedua negara sebelum batas waktu tersebut.

Tarik Menarik Sentimen, Harga Minyak Mentah Turun

Harga minyak mentah turun untuk hari kedua di tengah indikasi stok minyak mentah AS dan produksi serpih akan terus meningkat, sedangkan investor menunggu hasil pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16:39 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,93% atau 0,53 poin ke posisi US$56,52 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent turun 0,86% atau 0,54 poin ke level US$61,90 per barel.

Menurut survei Bloomberg sebelum data pemerintah pada Rabu (20/11), persediaan minyak AS mungkin naik 1,5 juta barel minggu lalu. Sementara produksi serpih di ladang minyak utama diperkirakan akan meningkat bulan depan.

Pasar global berada dalam pola bertahan, peka terhadap perkembangan perdagangan setelah berbulan-bulan negosiasi yang diikuti dengan cermat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Indeks BEI

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top