Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Rampungkan Transaksi Afiliasi Rp2,52 Triliun

CBI juga menerbitkan convertible note kepada SSMS dengan jumlah Rp1,4 triliun yang bisa dikonversikan menjadi ekuitas.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 Oktober 2019  |  17:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) telah menyelesaikan transaksi afiliasi dengan PT Citra Borneo Indah (CBI) senilai Rp2,52 triliun.

Direktur Keuangan Sawit Sumbermas Sarana Nicholas J. Whittle mengatakan perseroan telah merampungkan transaksi afiliasi bersama PT Citra Borneo Indah (CBI) yang memegang 53,75% saham SSMS beserta anak-anak usaha lainnya.

“Transaksi sudah selesai dan terkait pengalihan piutang serta restrukturisasi telah selesai,” katanya, Selasa (29/10/2019).

Whittle mengatakan transaksi afiliasi itu tidak mengeruk kas milik perseroan. Pasalnya, kedua pihak menyepakati afiliasi non-cash.

SSMS, lanjutnya, mendapatkan saham atas salah satu anak usaha CBI karena piutang dialihkan menjadi ekuitas. Selain itu, CBI juga menerbitkan convertible note kepada SSMS dengan jumlah Rp1,4 triliun yang bisa dikonversikan menjadi ekuitas.

Sebelumnya, restrukturisasi atau transaksi afiliasi tersebut melibatkan anak-anak usaha CBI dan SSMS, seperti PT Kalimantan Sawit Abadi (KSA), PT Mitra Mendawai Sejati (MMS), PT Tanjung Sawit Abadi (TSA), PT Sawit Multi Utama (SMU), PT Menteng Kencana Mas (MKM), dan PT Mirza Pratama Putra (MPP).

Rencananya, keenam anak usaha tersebut akan mengalihkan piutangnya ke SSMS dengan bunga sebesar 11% per tahun dan jangka waktu 15 tahun setelah perjanjian. Perjanjian sebelumnya sudah diteken pada 15 April 2019.

“Jadi transaksi pertama adalah konversi utanng menjadi menjadi ekuitas untuk menaikkan porsi kepemilikan SSMS dari 19% menjadi 49% di salah satu anak usaha CBI yang bergerak di hilirisasi. Kedua adalah penerbitan convertible note,” ungkapnya.

Kendati transaksi telah selesai, tetapi Whittle mengatakan segmen bisnis hilir tidak otomatis ikut berkontribusi atas pendapatan pada kuartal III atau pun kuartal IV. Menurutnya, masih perlu 1 atau 2 tahun lagi sampai segmen hilir masuk ke laporan keuangan.

SSMS, lanjutnya, berupaya merestrukturisasi bisnis untuk bisa mengintegrasikan pendapatan dari kebun sawit hingga ke hilir. Nicholas mengakui perseroan kerap tertekan bila hanya mengandalkan bisnis penjualan crude palm oil (CPO). Pasalnya, rata-rata harga CPO cederung turun ke level US$500 per ton akibat perang dagang.

“Rencananya jelas kami menuju integrasi vertikal diantara usaha hulu sampai dengan hilir. Jadi itu rencana menengah sampai panjang. Mudah-mudahan bisa konsolidasi dalam satu sampai dua tahun kedepan. Sekarang kami masih fokus di hulu,” ungkapnya.

Whittle menambahkan pada tahun ini anak usaha CBI itu tengah berupaya memperbesar kapasitan refinery minyak sawit. Adapun, dari kapasitas terpasang 720.000 ton, entitas itu baru mengutilisasikan 70% saja. Sementara itu, pada tahun depan ada target penambahan kapsitas antara 85% sampai 90%.

Refinery baru beroperasi tahun lalu. Sekarang masih 70% utilisasinya, rencananya kuartal kedua 2020 akan naik menjadi 85% sampai 90%,” katanya.

Terakhir, lanjutnya, SSMS tengah mengkaji opsi pembelian saham kembali karena dalam setahun berjalan harga saham tengah terkoreksi 32,40% menjadi Rp845 per saham. Adapun, harga itu juga menjadi yang terendah dalam  3 tahun terakhir.

“Opsi buy back sedang kami pertimbangkan tapi akan kita lihat pergerakan pasar karena bisnis ini erat kaitannya dengan harga sawit global,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, sawit sumbermas sarana

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top