Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hingga Kuartal III/2019, Pendapatan Intiland (DILD) Melorot 23,4 Persen

Hingga kuartal III/2019, perseroan hanya mencetak laba bersih sebesar Rp6,5 miliar turun drastis dari posisi tahun lalu Rp122,9 miliar.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 Oktober 2019  |  12:48 WIB
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kanan) bersama Direktur Archied Noto Pradono, dan Wakil Presiden Direktur Suhendro Prabowo mengamati jaringan moda transportasi berbasis rel terbaru, usai RUPST perseroan, di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kanan) bersama Direktur Archied Noto Pradono, dan Wakil Presiden Direktur Suhendro Prabowo mengamati jaringan moda transportasi berbasis rel terbaru, usai RUPST perseroan, di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten properti PT Intiland Development Tbk. mengalami penurunan pendapatan sebesar 23,4 persen secara tahunan menjadi Rp1,85 triliun per kuartal III/2019.

Pada periode yang sama tahun lalu emiten berkode saham DILD itu mampu membukukan pendapatan Rp2,41 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan penurunan kinerja akibat perubahan kondisi pasar properti saat ini. Selain itu perseroan juga tidak banyak meluncurkan proyek properti anyar pada 2019.

“Kami pada tahun ini tidak banyak meluncurkan proyek baru. Beberapa proyek baru yang kami luncurkan, hampir seluruhnya adalah produk residensial yang menyasar segmen pasar menengah ke atas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (28/10/2019).

Archied menambahkan portofolio proyek perseroan lebih fokus pada segmen pengembangan mixed-use dan high rise serta perumahan yang menyasar pasar menengah ke atas.

Sementara tahun ini, segmen tersebut yang terpukul paling keras secara industri properti. Pasalnya, pasar lebih memilih proyek residensial yang menyasar pada segmen pasar menengah ke bawah.

Sampai dengan bulan kesembilan, kontribusi utama DILD adalah segmen development income yang tercatat mencapai Rp1,39 triliun atau 75,1 persen dari total pendapatan. Sisanya sebesar Rp461,7miliar atau 24,9persen berasal dari segmen recurring income.

Archied mengatakan DILD akan berupaya meningkatkan kontribusi recurring income sehingga membuat struktur pendapatan usaha menjadi lebih ideal.

“Peningkatan kontribusi dari penyewaan ruang perkantoran dan ritel menjadi prioritas untuk memperbesar pendapatan usaha yang bersumber dari recurring income,” ungkap Archied

Selain itu, laba bersih DILD juga ikut tertekan dengan koreksi sebesar 94,71 persen. Hingga kuartal III/2019, perseroan hanya mencetak laba bersih sebesar Rp6,5 miliar turun drastis dari posisi tahun lalu Rp122,9 miliar.

Archied mengatakan manajemen akan berupaya untuk mengejar dan meningkatkan kinerja usaha hingga akhir tahun ini. Penjualan produk-produk inventori yang sudah jadi menjadi fokus dan prioritas utama perseroan untuk meningkatkan pendapatan usaha.

“Kami punya inventori produk di beberapa proyek yang sudah jadi, seperti apartemen 1Park Avenue, Praxis, Aeropolis, dan di proyek perumahan. Penjualan dari produk-produk inventori ini bisa langsung diakui dan dibukukan sebagai pendapatan usaha,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten intiland
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top