Menimbang Prospek Emiten Komponen Otomotif

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sepanjang Januari 2019—Agustus 2019, penjualan mobil dalam negeri tercatat terkoreksi 13,5 persen menjadi 660.286 unit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni 763.444 unit.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  07:39 WIB
Menimbang Prospek Emiten Komponen Otomotif
Karyawati berbincang di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/7). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan kinerja industri otomotif diproyeksikan masih akan mempengaruhi kinerja emiten komponen otomotif hingga tahun ini seiring dengan belum adanya tanda peningkatan permintaan.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sepanjang Januari 2019—Agustus 2019, penjualan mobil dalam negeri tercatat terkoreksi 13,5 persen menjadi 660.286 unit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni 763.444 unit.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai dengan melemahnya penjualan mobil baru secara nasional berdampak kepada penjualan suku cadang otomotif.

Selain itu, dia menilai konsumen dalam negeri belum mengeluarkan anggaran belanja untuk kebutuhan otomotif, karena beberapa faktor yang mengikis daya beli masyarakat. “Untuk sektor komponen otomotif saat ini masih hold,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/10/2019).

Kendati demikian, dia menjelaskan bahwa masih terdapat ruang pertumbuhan untuk emiten komponen otomotif yang memiliki produk suku cadang yang memiliki masa pakai yang lebih rendah.

Dia menilai produk suku cadang yang memiliki masa pakai yang singkat tidak terlalu terdampak oleh pelemahan industri otomotif.

Di sisi lain, produk yang memiliki masa pakai yang lama diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang stagnan dan cenderung menurun karena memiliki korelasi yang lebih tinggi terhadap produksi mobil baru di Indonesia.

“Produk yang consumable seharusnya masih ada pertumbuhan karena lebih dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan juga jumlah populasi mobil atau motor di Indonesia,” ujarnya.

SAHAM SMSM

Frederik menjadikan saham PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) sebagai top picks untuk emiten komponen otomotif karena portofolio produk yang ditawarkan lebih mudah dijual dan berkelanjutan.

Menurutnya, suku cadang milik SMSM tidak terlalu terdampak oleh lemahnya penjualan mobil dalam negeri.

“Target harga SMSM Rp1.880 untuk tahun ini, PER [price earning ratio] forward ada di 16,6x, kami asumsinya net income-nya ada di level Rp635 miliar secara full year,” pungkasnya.

Sementara itu, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menilai bahwa belum adanya perbaikan kondisi makroekonomi dalam negeri membuat pelemahan permintaan untuk industri otomotif masih berlanjut.

Menurutnya, kondisi pada semester II/2019 tidak akan jauh berbeda dengan realisasi pada semester I/2019.

“Kondisi ini diproyeksikan masih akan berlanjut hingga tahun depan,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/19/2019).

PROSPEK AUTO

Dia menilai untuk sektor komponen otomotif, PT Astra Otoparts Tbk. dinilai masih akan memiliki prospek yang baik. Pasalnya emiten berkode saham AUTO tersebut masih memiliki ekosistem yang membuat permintaan komponen otomotif terus berlanjut.

AUTO masih menjadi pemasok komponen otomotif untuk induk usahanya yakni PT Astra International Tbk., sehingga membuat perseroan tidak terlalu bergantung dengan pasar otomotif global yang juga melemah.

“Kinerja AUTO masih tertolong oleh ekosistem otomotif Astra International,” jelasnya.

Di lain pihak, Direktur Keuangan PT Garuda Metalindo Tbk. (BLOT) Anthony Wijaya mengungkapkan bahwa perseroan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan pada tahun ini sebesar 3 persen—5 persen dapat tercapai.

Kendati demikian, capaian tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan target pertumbuhan pendapatan yang ditetapkan perseroan pada awal tahun yakni 10 persen—15 persen.

“Dari kinerja hingga kuartal III/2019 sudah ada gambarannya untuk capaian target tersebut,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/10).

PROSPEK KOMPONEN

Anthony menjelaskan bahwa pada kuartal IV/2019, prospek komponen secara keseluruhan masih ada sedikit kenaikan seiring dengan adanya penambahan proyek-proyek baru untuk komponen otomotif.

Dengan demikian, penurunan permintaan suku cadang roda 4 dapat ditutupi dengan penambahan produk baru yang permintaannya sedang meningkat. “Selain itu juga masih adanya pertumbuhan di kendaraan roda 2,” jelasnya.

Sekretaris Perusahaan Selamat Sempurna Lidiana Widjojo menjelaskan bahwa ke depannya, pada semester II/2019 perseroan masih melihat tantangan yang tidak mudah untuk mendapatkan pertumbuhan kinerja yang lebih besar.

Melihat kondisi tersebut, perseroan merevisi target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini. Sebelumnya perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15 persen pada 2019.

“Kami konservatif, kami proyeksikan sales flat, kalaupun tumbuh maksimal 5 persen,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI, rekomendasi saham

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top