Pilarmas Sekuritas : Menanti Kebijakan Suku Bunga, IHSG Bergerak Variatif

Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri akan memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (7/10/2019).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  09:11 WIB
Pilarmas Sekuritas : Menanti Kebijakan Suku Bunga, IHSG Bergerak Variatif
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak variatif cenderung melemah pada Senin (7/10/2019), pada kisaran 6.010-6.121.
 
Dalam riset hariannya, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan pelaku pasar akan mencerna pidato singkat dari Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell dalam acara jajak pendapat di Washington.
 
"Powell mengatakan ekonomi AS berada di tempat yang baik tapi ada beberapa risiko yang timbul. Powell tidak menjelaskan secara rinci mengenai prospek pertumbuhan atau potensi pemangkasan tingkat suku bunga lanjutan," tulisnya, Senin (7/10). 
 
Powell menyampaikan bahwa pengangguran telah mendekati level terendah dalam kurun waktu setengah abad dan inflasi terus berusaha mendekati target bank sentral yaitu 2 persen. 
 
Powell juga menambahkan sangat penting untuk mempertahankan pasar kerja yang kuat saat ini, karena makin banyak warga AS yang telah mendapatkan manfaatnya. Meskipun belum semua orang mendapatkan peluang yang sama di tengah ekonomi saat ini dan meskipun ekonomi sedang menghadapi beberapa risiko, tapi Powell menilai  ekonomi AS berada di tempat yang baik. 
 
Sejauh ini, The Fed telah memangkas tingkat suku bunga sebanyak dua kali dan hal ini dilakukan untuk melindungi AS dari pertumbuhan global yang mulai melambat serta ketidakpastian yang masih belum usai akibat perang dagang AS-China. 
 
Belum usai perang keduanya, saat ini, dunia tengah menghadapi ketidakpastian yang kedua, yaitu AS dengan Uni Eropa.
 
"Beberapa pelaku pasar dan investor mulai berspekulasi saat ini, karena mereka menginginkan pemotongan tingkat suku bunga satu kali lagi pada pertemuan FOMC bulan ini yang akan diadakan pada 29-30 Oktober nanti," lanjut Nico.
 
Dalam jajak pendapat tersebut, Powell tidak memberikan indikasi apa saja yang terkait dengan potensi pemotongan tingkat suku bunga. The Fed juga melakukan jajak dengar pendapat dengan para akademisi, masyarakat, dan perusahaan mengenai situasi dan kondisi saat ini. 
 
Dalam diskusi tersebut, mereka mencari strategi yang tepat untuk bisa mencapai inflasi hingga ke titik 2 persen secara simetris dan berkelanjutan. Strategi tersebut digunakan untuk membantu mencegah inflasi di kalangan konsumen, bisnis, dan investor yang turun terlalu rendah yang telah terjadi di beberapa negara.
 
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melakukan survei untuk memprediksi inflasi, yang berpotensi naik 0,02 persen secara month-on-month (mom) dan 3,13 persen secara year-on-year (yoy). Kenaikan tersebut ditopang oleh kenaikan harga ayam dan tomat sayur yang diproyeksi sebesar 0,03 persen dan 0,01 persen. 
 
"Kami melihat apabila proyeksi dari survei BI terjadi, angka tersebut masih dalam batas wajar kenaikan inflasi saat ini. BI memproyeksi inflasi hingga akhir tahun berada pada 3,5 persen," tutur Nico.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prediksi ihsg

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top