Kondisi Politik Tak Pasti, Calon Emiten Tetap Pede IPO

Calon emiten dinilai sudah mempertimbangkan kondisi pasar dan fundamental ekonomi Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 25 September 2019  |  16:14 WIB
Kondisi Politik Tak Pasti, Calon Emiten Tetap Pede IPO
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan yang terjadi di pasar saham selama beberapa hari terakhir dinilai tak akan mempengaruhi minat calon emiten untuk tetap go public.
 
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna Setya menjelaskan calon perusahaan tercatat yang telah menyerahkan dokumen ke bursa tentunya juga telah mempertimbangkan segala kondisi yang terjadi di pasar.
 
“Kalau sudah submit dokumen, itu mereka [calon emiten] sudah memikirkan semua kondisi. Kondisinya kan memang dinamis, pasar bergerak, tentunya yang lebih penting mereka sudah tahu bagaimana fundamental Indonesia,” katanya di Jakarta, Rabu (25/9/2019).
 
Menurut Nyoman, saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya, segala dinamika sosial dan politik yang terjadi belakangan ini—mulai dari Pemilu hingga aksi massa—merupakan bagian dari demokrasi itu sendiri.
 
BEI pun optimistis target 75 pencatatan efek baru pada tahun ini, dapat tercapai. Saat ini, sudah ada 38 perusahaan tercatat baru di bursa dan ada 22 perusahaan lagi yang sudah masuk ke dalam pipeline untuk penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO).
 
“Mudah-mudahan dengan buku audit Juni 2019, nanti akan banyak yang masuk. Kami harapkan ke depan, perusahaan masih optimis,” imbuhnya.
 
Direktur PT Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli menambahkan keriuhan yang terjadi, seperti aksi penolakan RUU KUHP maupun revisi UU KPK dan lainnya, tidak akan mempengaruhi penyerapan penawaran saham emiten yang akan listing pada bulan depan.
 
“Karena mereka [calon emiten] waktu melakukan roadshow, dll, itu pada awal Agustus 2019. Jadi, saya rasa tidak akan ada masalah. Tapi, kalau untuk IPO yang dilakukan pada November atau Desember 2019, itu saya tidak bisa bicara,” ujarnya.
 
Dinamika sosial dan politik domestik ke depannya dinilai sulit diprediksi karena bergerak dengan cepat. Adapun yang dikhawatirkan adalah aksi yang dilakukan belakangan ini mengikuti aksi yang terjadi di Hong Kong.
 
“Kita tidak tahu akankah kita seperti mereka [Hong Kong] atau bisa dengan cepat bertindak supaya tidak melebar. Kalau melihat contoh apa yang terjadi di Hong Kong, di mana langsung mempengaruhi investasi dan pariwisatanya,” sambung Kerry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, bei

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top