Suku Bunga Rendah dan Potensi Pertumbuhan Emiten Jadi Daya Tarik Pasar Saham Indonesia

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyatakan pasar saham Indonesia masih memberikan peluang investasi yang menarik karena valuasinya.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 18 September 2019  |  15:58 WIB
Suku Bunga Rendah dan Potensi Pertumbuhan Emiten Jadi Daya Tarik Pasar Saham Indonesia
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham domestik diperkirakan masih memberikan peluang investasi yang menarik menjelang akhir 2019, seiring dengan penurunan suku bunga dari bank sentral utama dunia dan adanya potensi pertumbuhan laba korporasi.
 
Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan menjelaskan pasar saham Indonesia masih memberikan peluang investasi yang menarik karena valuasinya. Adapun potensi pertumbuhan laba korporasi diperkirakan sekitar 9 persen pada tahun ini.
 
“Katalis ke depan untuk pasar saham ada beberapa faktor, antara lain pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Indonesia (BI), percepatan reformasi kebijakan, perbaikan data aktivitas ekonomi, dan pemotongan pajak korporasi,” paparnya dalam laporan Market Update—September 2019 seperti dikutip Bisnis, Rabu (18/9/2019).
 
Di tengah berbagai tekanan terhadap ekonomi dan pasar keuangan secara global, The Fed diperkirakan bakal memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Federal Open Market Committtee (FOMC) yang berakhir pada Kamis (19/9) pukul 01.00 WIB, 
 
Dengan demikian, MAMI memperkirakan ada penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 bps sepanjang tahun ini. Selanjutnya, The Fed diperkirakan bakal memangkas suku bunga lebih lanjut pada 2020. 
 
Kebijakan moneter yang akomodatif tersebut pun bakal diterapkan oleh bank sentral lain. Baru-baru ini, Bank Sentral Eropa (Europeran Central Bank/ECB) juga telah semakin menekan suku bunga acuannya menjadi -0,5 persen.
 
Selain dari sisi kebijakan moneter, lanjut Katarina, pemerintah berbagai negara juga mempersiapkan stimulus fiskal untuk menopang ekonominya.
 
Selanjutnya, di tengah kondisi suku bunga rendah secara global, investor bakal mencari negara yang memiliki fundamental baik dan memberikan potensi imbal hasil investasi menarik.
 
“Indonesia menjadi menonjol karena suku bunga riil yang masih tinggi. Ini berarti masih banyak ruang bagi BI untuk melanjutkan penurunan suku bunga ke depannya,” imbuhnya.
 
Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah terjaga dan berkinerja lebih baik dibandingkan mata uang lain di kawasan Asia Tenggara dan persepsi risiko Indonesia juga terus membaik.
 
Berdasarkan data Bloomberg dan MAMI, perubahan persepsi risiko yang tercermin dalam Credit Default Swap (CDS) Indonesia selama 5 tahun terakhir (year-to-date/ytd) menyentuh level -48.
 
“Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya proses pertumbuhan ekonomi yang relatif baik, dinamika kebijakan yang kuat, utang pemerintah yang relatif rendah, serta kondisi fiskal yang terkelola dengan baik,” tutur Katarina.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed, bursa saham

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top