Stimulus ECB Topang Pasar Global, Tekanan Jual Hantui IHSG

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG naik tipis 0,02 persen atau 1,45 poin ke level 6.343,63 pada akhir sesi I, setelah dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,43 persen atau 27,25 poin di level 6.369,42.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 September 2019  |  12:29 WIB
Stimulus ECB Topang Pasar Global, Tekanan Jual Hantui IHSG
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (13/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG naik tipis 0,02 persen atau 1,45 poin ke level 6.343,63 pada akhir sesi I, setelah dibuka dengan penguatan 0,43 persen atau 27,25 poin di level 6.369,42.

Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.336,36 – 6.375,8. Adapun pada perdagangan Kamis (12/9), IHSG berakhir melemah 0,62 persen atau 39,78 poin di level 6.342,17. 

Lima dari sembilan sektor menetap di zona hijau pada akhir sesi I, dipimpin sektor industri dasar (+0,91 persen) dan infrastruktur (+0,59 persen). Empat sektor lainnya menetap di zona merah, dipimpin tambang yang turun 1,35 persen.

Sebanyak 179 saham menguat, 191 saham melemah, dan 281 saham stagnan dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT MNC Vision Networks Tbk. (IPTV) yang masing-masing naik 0,58 persen dan 11,32 persen menjadi penopang utama penguatan IHSG.

Sebaliknya, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang masing-masing turun 6,97 persen dan 1,47 persen menjadi penekan utama sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG siang ini.

Sementara itu, mayoritas indeks saham lain di Asia mampu menguat, di antaranya indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing menanjak 0,98 persen dan 0,69 persen, serta indeks Hang Seng Hong Kong yang naik 0,36 persen.

Dilansir dari Bloomberg, bursa saham Asia menguat mengikuti indeks futures Amerika Serikat (AS) saat optimisme perdagangan AS-China terus tumbuh dan Bank Sentral Eropa (ECB) memperkenalkan putaran baru stimulus moneternya.

Optimisme atas kesepakatan perdagangan tumbuh menjelang perundingan perdagangan tingkat tinggi yang direncanakan berlangsung pada 1 Oktober mendatang di Washington.

Indeks futures S&P 500 naik setelah pejabat pemerintah AS dikabarkan telah membahas penawaran perjanjian perdagangan terbatas kepada China.

Menurut sumber terkait, adanya perjanjian sementara akan menunda dan mengurangi beberapa tarif sebagai imbalan komitmen atas kekayaan intelektual dan pembelian produk-produk pertanian.

Meski begitu, tanda-tanda progres hubungan antara dua negara berekonomi terpanas di dunia itu sudah cukup untuk membantu melambungkan sentimen di tengah ekspektasi pelonggaran lebih lanjut oleh bank-bank sentral, termasuk dari Federal Reserve pekan depan.

Sentimen pasar sebelumnya telah mendapat dukungan dari langkah ECB untuk memangkas suku bunga acuannya dan membeli obligasi senilai 20 miliar euro (US$22 miliar) sebulan.

Dalam pertemuan kebijakan yang berakhir Kamis (12/9) waktu setempat, ECB memangkas suku bunga deposito sebesar 10 basis poin ke rekor terendah minus 0,5 persen dan mengatakan akan memulai kembali pembelian obligasi senilai 20 miliar euro per bulan mulai 1 November.

Menurut tim riset Sinarmas Sekuritas, langkah ECB tersebut turut mendorong sentimen yang menopang pasar di sisi global, selain indikasi bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan kesepakatan interim dengan China.

“Dari dalam negeri, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menargetkan transaksi industri ritel tahun 2019 mencapai senilai Rp 258 triliun, atau tumbuh 10 persen dari realisasi tahun sebelumnya,” tulis dalam riset harian.

Di sisi lain, menurut Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini akan dihantui oleh tekanan jual.

“Candlestick IHSG membentuk pola dark cloud cover dengan potensi terkoreksi jangka pendek kembali menguji support MA20 dalam jangka pendek. Pelemahan ini membawa momentum RSI menjadi bearish dan dead-crossnya indikator Stochastic,” jelas Lanjar.

“Sehingga tekanan jual akan menghantui dengan percobaan menguji support MA50 terlebih dahulu dengan support resistance 6.320-6.350," demikian menurut riset hariannya.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah mampu menguat 46 poin atau 0,33 persen ke level Rp13.948 per dolar AS pukul 11.25 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level 13.930-13.955

Namun, indeks Bisnis-27 terkoreksi 0,13 persen atau 0,71 poin ke level 556,27 dan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melemah 0,29 persen atau 1,99 poin ke posisi 693,77 pada akhir sesi I.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top