Harga Terpuruk, Produsen Aluminium Global dalam Tekanan

Pada perdagangan Rabu (11/9/2019), harga aluminium berjangka untuk kontrak November 2019 di bursa SHFE bergerak menguat 0,17% menjadi 14.405 yuan per ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 September 2019  |  14:04 WIB
Harga Terpuruk, Produsen Aluminium Global dalam Tekanan
Pekerja melakukan pengecoran produk aluminium di pabrik milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Terpuruknya harga aluminium sepanjang tahun berjalan 2019, membuat beberapa produsen aluminium melakukan efisiensi untuk bertahan hidup dari anjloknya harga di tengah lemahnya permintaan akibat perang dagang AS dan China yang terjadi berlarut-larut sejak tahun lalu.

Norsk Hydro, salah satu produsen aluminium terbesar di dunia asal Norwegia, akan menutup beberapa produksinya di Jerman dan dapat memberhentikan lebih dari 700 pekerja dalam upaya untuk meningkatkan keuntungan bisnis.

Wakil Presiden Eksekutif Produk Rolled-Aluminum Norsk Hydro Einar Glomnes mengatakan bahwa di tengah harga aluminium global yang rendah, biaya di bagian bisnis foil Norsk Hydro terlalu tinggi, terutama proses produksi manual dan intensif pekerja. Belum lagi persaingan yang cukup kompetitif di segmen pasar tersebut.

“Sehingga sebagai konsekuensinya, kami berencana untuk menutup bisnis jalur utama foil kami,” ujar Einar Glomnes seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/9/2019).

Restrukturisasi tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 160 juta euro atau setara dengan US$177 juta, termasuk menutup bagian produksi foil di pabrik Grevenbroich di Jerman dan pemotongan biaya personil yang direncanakan hingga 60 juta euro per tahun.

Dari total biaya tersebut, sebanyak 100 juta euro hingga 120 juta euro akan diambil sebagai pendapatan pada kuartal ketiga 2019.

Adapun, restrukturisasi tersebut akan menyebabkan redundansi hingga 735 full time equivalents (FTEs). Kendati demikian, satu FTE yang menunjukkan satu karyawan bekerja penuh waktu, jumlah karyawan sebenarnya yang terkena dampak bisa lebih kecil.

“Tujuannya adalah untuk memiliki sesedikit mungkin orang yang terkena dampaknya, dan ini dapat dilakukan dengan mengurangi jam kerja atau tindakan lain,” tambahnya.

Perusahaan mengatakan, pihaknya kini menginginkan bisnis produk gulungnya lebih fokus pada pertumbuhan industri, seperti sektor otomotif.

Alcoa Corp

Di sisi lain, Alcoa Corp, produsen aluminium terbesar asal AS, akan menghilangkan struktur unit bisnisnya dan mengkonsolidasikan penjualan, pengadaan, dan fungsi komersial lainnya. Perusahaan tersebut akan merampingkan struktur organisasinya, terutama di bagian eskekutif dari semula terdapat 12 jabatan eksekutif menjadi menyisakan 7 posisi saja.

Chief Executive Officer Roy Harvey mengatakan bahwa perampingan stuktur tersebut terjadi karena melambatnya pertumbuhan global meskipun tarif impor tambahan oleh Presiden AS Donald Trump ditujukan untuk melindungi industri dalam negeri.

Sebagai informasi, AS merencanakan kenaikan tarif impor aluminium dan baja karena produsen AS berpendapat pihaknya tidak dapat bersaing akibat membanjirnya pasokan aluminium dan baja dari China ke pasar internasional yang lebih murah.

Adapun, langkah perampingan tersebut akan menghasilkan biaya restrukturisasi, yang diharapkan Alcoa dapat dilaporkan pada akhir kuartal ketiga dan restrukturisasi harus diselesaikan pada akhir kuartal pertama 2020.

Alcoa akan menerapkan reorganisasi kedua sejak perpecahan pada akhir 2016 lalu karena perusahaan berusaha untuk mengurangi biaya overhead setelah harga aluminium yang lebih rendah menurunkan pendapatan perusahaan pada kuartal kedua tahun ini.

Akibat hal tersebut, Alcoa pun telah memangkas prospek permintaan aluminium global pada Juli lalu seiring dengan ketegangan perdagangan AS dan China yang melambatkan pertumbuhan ekonomi global.

Alcoa memperkirakan permintaan aluminium global pada tahun ini hanya akan tumbuh sekitar 1,25% hingga 2,25%, lebih kecil dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang optimistis tumbuh 2% hingga 3%.

Oleh karena itu, pasokan aluminium dari perusahaan yang berbasis di Pittsburgh, AS ini akan mengikuti proyeksi konsumsi sehingga total produksi hanya akan sebesar 1 juta ton hingga 1,4 juta ton, lebih kecil dari perkiraan produksi April.

Laju Harga

Harga aluminium telah anjlok 13% pada tahun lalu dan bergerak melemah 1,41% sepanjang tahun berjalan 2019. Adapun, harga aluminium berjangka telah bergerak di bawah level US$2.000 per ton sejak Oktober 2018 lalu yang disebabkan oleh panasnya perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Harga yang rendah menunjukkan terkontraksinya permintaan komoditas logam, yang juga tercermin dari penjualan mobil di China yang terus menurun dalam beberapa bulan terakhir.

Pada perdagangan Rabu (11/9/2019), harga aluminium berjangka untuk kontrak November 2019 di bursa SHFE bergerak menguat 0,17% menjadi 14.405 yuan per ton.

Sementara itu, harga aluminium di bursa LME pada penutupan perdagangan Selasa (10/9/2019), berada di level US$1.820 per ton, menguat 1,17%.

Analis Bank of America Corp Timna Tanners mengatakan bahwa mengingat harga komoditas tersebut di bawah tekanan, pasar akan melihat banyak berita dari perusahaan produsen aluminium untuk memangkas biaya agar dapat menyelamatkan bisnisnya.

“Itulah yang coba dilakukan Alcoa. Alasan mereka melakukan ini sekarang adalah karena kondisi komoditas yang menantang,” ujar Timna seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, aluminium

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top