Pasar Obligasi Menguat Terbatas, Potensi Beli Terbuka

Pagi ini pasar obligasi masih diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 09 September 2019  |  09:11 WIB
Pasar Obligasi Menguat Terbatas, Potensi Beli Terbuka
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakam pasar obligasi pada perdagangan hari ini bakal menguat terbatas. Berikut beberapa sentimennya.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Senin (9/9/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pada perdagangan hari ini pasar obligasi diperkirakan menguat terbatas karena masih dibayangi faktor pasar global. Kendati demikian, dia menyebut bila penguatan terjadi, fase tersebut akan menjadi titik aman pertama untuk menyentuh penguatan selanjutnya.

Alasannya, di fase ini investor sebenarnya memiliki optimisme yang cukup dari ekspektasi penurunan suku bunga acuan oleh The Fed. Meskipun, faktor perang dagang China-AS membayangi.

"Pagi ini pasar obligasi masih diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas," ujarnya.

Adapun, terdapat beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan pasar pada hari ini. Pertama, pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di Zurich, Swiss. Pada kesempatan rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Powell menyatakan langkahnya memotong suku bunga acuan untuk menjaga agar bisnis tetap ekspansif. Powell pun menyebut tak menginginkan adanya resesi.

Powell mengakui bahwa ketidakpastian pasar saat ini mengganggu kepercayaan dan optimisme investor. Adapun, dalam pertemuan itu pendapat berbeda mengemuka. Proyeksi suku bunga turun 50 basis poin bercampur dengan mereka yang berpendapat bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini.

Di sisi lain, Maximilianus masih memperkirakan bahwa suku bunga acuan The Fed turun 50 basis poin. Langkah menjaga suku bunga di level saat ini akan menyulut keluarnya dana asing dari Indonesia karena pasar Indonesia tidak cukup menarik bagi investor global.

Kedua, sentimen yang mempengaruhi pasar hari ini berasal dari Hong Kong. Aksi demonstran di Hong Kong masih berlanjut kendati Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam telah mencabut Rancangan Undang Undang (RUU) Ekstradisi. Para demonstran masih menuntut permintaan lainnya yang belum dikabulkan termasuk tentang pembersihan nama pihak yang terlibat dalam demonstran dan penegakan demokrasi.

Ketiga, pertemuan Bank Sentral Eropa dinantikan para pelaku pasar karena melemahnya data ekonomi seperti indeks PMI Composite, Manufacture, dan Services yang berimbas pada rendahnya inflasi. Pelaku pasar menantikan stimulus berupa penurunan suku bunga acuan dari Bank Sentral Eropa.

Terakhir, Bank Sentral China bakal memangkas jumlah uang tunai yang dimiliki bank dan mengantarkan ke cadangan level terendah sejak 2007. Rasio akan diturunkan sebesar 0,5% yang berlaku pada 16 September. Pemangkasan tersebut akan memberikan efek likuiditas sebesar 900 miliar yuan atau US$126 miliar.

Dengan proyeksi tersebut, dia menyarankan agar investor melakukan wait and see dengan potensi beli guna memanfaatkan momentum penguatan ada perdagangan hari ini.

"Kami merekomendasikan wait and see dengan potensi beli hari ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top