Memburu Cuan dari Kemilau Nikel

Emiten pertambangan nikel semakin naik daun setelah pemerintah Indonesia mempercepat pelarangan ekspor bijih nikel kadar rendah. Bagaimana dampak angin segar itu terhadap prospek para penambang nikel?
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 09 September 2019  |  07:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan nikel semakin naik daun setelah pemerintah Indonesia mempercepat pelarangan ekspor bijih nikel kadar rendah. Bagaimana dampak angin segar itu terhadap prospek para penambang nikel?

Di bursa komoditas London Metal Exchange, nikel menjadi komoditas logam yang harganya paling melejit. Berdasarkan data Bloomberg, reli harga nikel sudah berlangsung sejak awal Juli 2019.

Saat itu, harga logam dasar itu ada di sekitar US$12.000 per ton. Dari titik tolak itu, nikel menanjak menembus level US$18.000 per ton pada awal September 2019.

Lesatan harga nikel tak terlepas dari angin segar yang meliputi komoditas pertambangan itu. Setidaknya ada tiga sentimen yang memoles nikel.

Pertama, proyeksi naiknya permintaan global sejalan dengan perkembangan kendaraan listrik yang membutuhkan pasokan nikel untuk pembuatan baterai.

Kedua, kabar tentang menipisnya sumber daya nikel di Filipina. Ketiga, keputusan Indonesia mempercepat pelarangan ekspor bijih nikel dari 2022 menjadi 1 Januari 2020.

grafik harga nikel

Analis nikel Beijing Antaike Information Development Co. Xu Aidong memperkirakan langkah Indonesia bakal memperlebar defisit nikel di pasar global. Defisit diproyeksi naik dari 40.000 ton menjadi 100.000 ton pada 2020.

Sepanjang tahun berjalan 2019, nikel merupakan logam dasar berkinerja terbaik pada tahun ini. Kemilau harga nikel terjadi di tengah jatuhnya pasar saham dan ketegangan perang dagang antara AS dan China. Nikel telah menguat 68,94% secara year-to-date.

Keputusan mempercepat penutupan keran ekspor bijih nikel baru saja diumumkan pemerintah pada akhir Agustus 2019. Namun, rumornya sudah menyebar di pasar dalam beberapa bulan sebelumnya.

Sejak kabar dipercepatnya larangan ekspor bijih nikel beredar, harga komoditas itu melonjak tajam. Pasalnya, Indonesia berkontribusi sekitar 27% terhadap pasokan nikel global.

nikel

Nickel Matte Vale

Di kalangan perusahaan tambang nikel, kebijakan pemerintah disebut-sebut membawa dampak positif. Salah satunya bagi produsen nickel matte, PT Vale Indonesia Tbk.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Nico Kanter menuturkan besarnya kontribusi Indonesia terhadap pasokan nikel dunia membuat setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan menjadi sorotan dan menentukan pasar serta harga nikel dunia.

Nico menyebut kenaikan harga nikel juga tidak hanya berdampak positif terhadap emiten berkode saham INCO tersebut. Namun, pemasukan yang akan diterima oleh Indonesia juga akan menjadi lebih besar.

Selain itu, kebijakan pelarangan ekspor bijih atau ore nikel telah memacu pembangunan smelter di dalam negeri. Pihaknya menilai rencana pemerintah untuk memberi nilai tambah kepada komoditas itu dapat terwujud.

Manajemen INCO sebelumnya melaporkan volume penjualan nikel matte naik 22% pada kuartal II/2019 menjadi 16.965 metrik ton. Adapun, harga realisasi rata-rata naik sekitar 7% menjadi US$9.744 per ton.

Vale Indonesia sudah mengoperasikan peleburan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan sejak 1970-an. Produk nickel matte yang diproduksi dijual kepada Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co. Ltd.

vale indonesia

Perusahaan yang go public pada Mei 1990 itu, memiliki empat blok area kontrak karya, yakni Blok Sorowako-Towuti seluas 70.566 hektare, Blok Bahodopo seluas 22.699 ha, serta Blok Pomalaa 20.286 ha dan Blok Suasua 4.466 ha.

Dari area kontrak karya seluas total 118.017 ha, cadangan bijih terbukti sebesar 101,8 juta ton dengan kadar 1,76% dan cadangan bijih terkira sebanyak 14,7 juta ton dengan kadar 1,64%.

Dalam periode 1977 hingga 2018, produksi nickel matte Vale Indonesia menyentuh rekor tertinggi sebanyak 81.177 metrik ton pada 2015.
Pada 2018, INCO memproduksi 74.806 ton nickel matte dan diproyeksi menghasilkan 71.000 ton hingga 74.000 ton nikel dalam matte pada tahun ini.

Di sisi kinerja keuangan, produsen nikel itu mengantongi rugi bersih US$26,17 juta per 30 Juni 2019 atau berbanding terbalik dari laba bersih US$29,38 juta periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, kinerja INCO boleh dibilang membaik jika dilihat secara kuartalan. Hal itu tercermin dari rugi yang dibukukan turun dari US$20,2 juta pada kuartal I/2019 menjadi US$6,0 juta pada kuartal II/2019.

Untuk ekspansi, INCO akan membangun pabrik feronikel di Bahadopi bersama mitra asal China. Nilai investasi untuk pabrik tersebut sekitar US$1,6 miliar—US$1,8 miliar.

Selain di Bahadopi, INCO juga memiliki proyek green field di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Fasilitas itu akan membuat bahan baku untuk baterai mobil listrik. Untuk proyek itu, INCO akan membentuk JV dengan Sumitomo untuk membangun pabrik yang diestimasi menelan biaya sekitar US$2,5 miliar.

produsen nikel

Dua Sisi Antam

Lain Vale Indonesia, lain pula PT Aneka Tambang Tbk. Bagi emiten berkode saham ANTM itu, larangan ekspor bijih nikel bagai dua sisi mata uang.

Di satu sisi, Antam akan kehilangan potensi pendapatan dari ekspor bijih nikel. Di sisi lain, anggota holding BUMN pertambangan itu dapat memacu produksi feronikel yang nilai jualnya jauh lebih tinggi dari ore.

Direktur Utama Aneka Tambang Arie Prabowo Ariotedjo menjelaskan bahwa komoditas nikel dan feronikel berkontribusi 29% terhadap total pendapatan perseroan. Dari jumlah itu, kontribusi bijih nikel hanya 7%.

Dengan asumsi target pendapatan Rp30 triliun, kata Arie, perseroan berisiko kehilangan pendapatan sekitar Rp2 triliun akibat penerapan larangan ekspor bijih nikel.

“[Ekspor bijih nikel] Disetop hanya 7%, jadi 22% masih oke,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Pada semester I/2019, penjualan bijih nikel ANTM melonjak 103% yoy menjadi 3,90 juta wet metric ton (wmt). Volume penjualan lebih rendah dari produksi yang mencapai 4,79 juta wmt sepanjang Januari 2019—Juni 2019.

nikel antam

ANTM mengantongi pendapatan unaudited dari bijih nikel senilai Rp1,76 triliun pada semester I/2019. Nilai tersebut tumbuh sebesar 107% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, produksi feronikel ANTM pada semester I/2019 tercatat hanya tumbuh 2% secara tahunan dari 12.811 TNi menjadi 13.017 TNi. Adapun pendapatan yang diraup ANTM dari penjualan feronikel mencapai Rp2,31 triliun atau 16% dari total penjualan.

Produksi bijih nikel dan feronikel Antam ditopang oleh tiga tambang yang berlokasi di Pomalaa, Buli, dan Pulau Gag. Hingga akhir tahun lalu, cadangan bijih nikel ANTM tercatat 438 juta wmt dan sumber daya 1,33 miliar wmt.

Di sisi hilir, perseroan mengoperasikan pabrik feronikel Pomalaa dan membangun pabrik feronikel di Halmahera Timur.

Saat ini, perseroan sedang membangun proyek Pabrik Feronikel Halmahera Timur yang biayanya diestimasi senilai Rp3,5 triliun. Sampai dengan Juni 2019, konstruksi pabrik berkapasitas line 1 sebesar 13.500 TNi per tahun itu sudah mencapai 97% dan siap beroperasi pada 2020.

Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengatakan perseroan akan memaksimalkan produksi feronikel dari smelter di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Selain itu, ANTM akan melakukan evaluasi strategi untuk mengganti pendapatan ekspor bijih nikel.

Selain itu, ANTM sedang menjajaki potensi pengembangan baterai kendaraan listrik yang akan menyerap produk bijih nikel limonit perseroan untuk bahan baku.

“Saat ini, perseroan memang tengah membuka peluang untuk penjajakan dengan mitra untuk mengembangkan baterai,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

emiten nikel

Smelter Central Omega

Satu lagi emiten pertambangan yang menikmati kenaikan harga nikel ialah PT Central Omega Resources Tbk. Perseroan memiliki tiga entitas anak yang bergerak di sektor pertambangan nikel, yaitu PT Mulia Pacific Resources, PT Itamatra Nusantara, dan PT Bumi Konawe Abadi. Pada 2018, tiga anak usaha itu memproduksi bijih nikel sebanyak 440.225 ton.

Central Omega Resources mulai merintis proyek downstream nikel sejak 2013 dengan mendirikan PT COR Industri Indonesia. Anak usaha itu menggandeng mitra asal China, Macrolink Group untuk membangun smelter nikel di Komondale, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Ground breaking smelter emiten berkode saham DKFT itu dilakukan pada 2015. Dua tahun berselang smelter memulai uji coba produksi dan mulai beroperasi komersial sejak Mei 2018. Dari smelter itu, perseroan menjual feronikel sebanyak 24.904 ton pada 2017 dan 43.797 ton pada tahun lalu.

Menyusul operasi komersial smelternya, PT COR Industri Indonesia menjalin nota kesepahaman dengan perusahaan China Metallurgical Corporation of China pada akhir 2018. Kerja sama itu dijalin untuk membangun smelter nikel tahap II di Morowali Utara.

Untuk mendanai rencana ekspansi itu, DKFT berencana menggelar rights issue sebanyak-banyaknya 9,5 miliar saham dengan potensi penggalangan dana Rp1,9 triliun hingga Rp2,4 triliun.

Chief of External Relation & Business Development Central Omega Resources Andi Jaya mengatakan pembangunan smelter tahap II rencananya akan dimulai pada kuartal IV/2019. Sumber dana akan berasal 70% dari perbankan dan sisanya 30% dari perseroan dan mitra saat ini di COR Industri Indonesia.

Pada 2019, DKFT membidik penjualan bijih nikel 1,01 juta ton dan feronikel 39.200 ton. Dari situ, perseroan membidik penjualan Rp1,03 triliun dan laba bersih Rp46,45 miliar.

Kinerja Saham Emiten Pertambangan Nikel
Kode SahamHarga SahamKinerja Saham Ytd
ANTMRp1.07540,52%
INCORp3.72014,11%
DKFTRp258-15,69%

Sumber: Bloomberg, per 6 September 2019.

Rekomendasi Saham

Secara terpisah, Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan menjelaskan bahwa harga nikel dunia mengalami lonjakan karena pelarangan ekspor bijih nikel kadar rendah. Pasalnya, kebijakan itu dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaan pasokan komoditas itu di pasar internasional.

“Larangan ekspor tersebut diberlakukan untuk mengembangkan industri hilir agar nikel Indonesia punya nilai lebih sehingga membantu nilai transaksi berjalan Indonesia sekaligus untuk mengundang investor untuk membangun smelter [pemurnian] di Indonesia,” paparnya.

Dia menyebut emiten seperti ANTM, INCO, dan DKFT kini sedang menggenjot proyek smelter dan sudah lebih siap menghadapi kebijakan baru. Dengan demikian, kinerja dan prospek saham tidak akan terlalu terganggu.

Sementara itu, Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy juga masih menjagokan saham ANTM dan INCO untuk anggota indeks Jakmine. Sentimen penopangnya berasal dari kenaikan harga emas dan nikel.

“ANTM beli dengan target harga Rp1.500 dan INCO beli dengan target harga Rp4.000,” jelasnya.

Di sisi lain, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menjadikan saham INCO pilihan untuk emiten anggota indeks Jakmine.

“Harga nikel jauh lebih berprospek dibandingkan batu bara dan timah. Rekomendasi buy on weakness INCO di level Rp3.100 dengan target harga Rp4.400,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nikel, kinerja emiten, fokus

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top