AS-China Siap Berunding Lagi, Pasar Saham Global Menguat

Bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS) kompak bergerak positif pada perdagangan siang ini, Kamis (5/9/2019), mengekor penguatan bursa Asia yang didorong kabar rencana pertemuan pejabat pemerintah AS dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 September 2019  |  15:38 WIB
AS-China Siap Berunding Lagi, Pasar Saham Global Menguat
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat  kompak bergerak positif pada perdagangan siang ini, Kamis (5/9/2019), mengekor penguatan bursa Asia yang didorong kabar rencana pertemuan pejabat pemerintah AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 menanjak 0,7 persen pada pukul 08.04 pagi waktu London (pukul 14.04 WIB) dan indeks futures S&P 500 naik 0,6 persen.

Indeks Stoxx Europe 600 naik untuk hari kedua, dengan seluruh indikator nasional utama berada di wilayah positif. Pada saat yang sama, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,2 persen, indeks MSCI Emerging Market menguat 0,8 persen, dan indeks MSCI Asia Pacific naik tajam 1 persen.

Dilansir Bloomberg, pemerintah China mengumumkan akan mengadakan putaran baru perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) pada awal Oktober.

Tim negosiator perdagangan China akan mengunjungi Washington pada awal bulan depan untuk berdiskusi dengan tim perundingan AS.

Menurut pernyataan dari kementerian perdagangan China, Wakil Perdana Menteri Liu He menyetujui rencana kunjungan itu melalui sambungan telepon pada Kamis (5/9) pagi waktu Beijing dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer.

Sementara itu, pejabat level di bawahnya dilaporkan akan mengadakan diskusi serius bulan ini untuk mempersiapkan perundingan tersebut, yang semula diperkirakan akan berlangsung pada September.

Merespons perkembangan terbaru ini, pasar saham global serentak menguat. Bursa saham Jepang memimpin kenaikan di antara mayoritas bursa Asia. Di sisi lain, aset-aset safe haven seperti obligasi, mata uang yen Jepang, dan emas melemah.

Secercah harapan dalam perang perdagangan global tersebut menambah sentimen untuk aset berisiko, menyusul perkembangan positif di Inggris dan Hong Kong.

Pada Rabu (4/9), anggota parlemen di majelis rendah Parlemen Inggris memberikan suara untuk menyetujui undang-undang mencegah pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Pada hari yang sama, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam akhirnya mencabut RUU ekstradisi yang telah menyulut aksi protes keras dan kerusuhan sekitar tiga bulan terakhir.

“Ada kelegaan bahwa ketegangan di Hong Kong mereda,” ujar Brian Battle, direktur perdagangan di Performance Trust Capital Partners, dikutip dari Reuters. “Tindak lanjut itu dan minimnya pemberitaan buruk membuat pasar melayang lebih tinggi.”

Sementara itu, banyak analis China meyakini seiring waktu dampak negatif pada pasar akibat perang dagang AS-China akan sedikit menurun. Mereka menyebut hal itu terjadi karena pemerintah China melancarkan lebih banyak langkah untuk mendorong perekonomian.

Fokus pasar kini cenderung bergeser ke pernyataan dari Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dan laporan pekerjaan terbaru AS, yang akan dirilis pada Jumat (6/9/2019) waktu setempat, di tengah ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut.

“Ketimbang menjauh dari pasar karena volatilitas, saatnya untuk mengambil keuntungan darinya. Saya akan memegang kata-kata The Fed dan mudah-mudahan mereka akan mengambil tindakan tepat pada waktunya,” ujar Ann Miletti, manajer portofolio di Wells Capital Management kepada Bloomberg TV.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top