Simak Sentimen yang Mempengaruhi Pasar Obligasi Hari Ini

Pasar obligasi pada perdagangan hari ini diperkirakan dibuka bervariasi dengan ruang pergerakan 25 basis poin hingga 55 basis poin. Berikut sentimen yang mempengaruhi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 04 September 2019  |  09:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi pada perdagangan hari ini diperkirakan dibuka bervariasi dengan ruang pergerakan 25 basis poin hingga 55 basis poin. Berikut sentimen yang memengaruhi.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Rabu (4/9/2019), Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan harga surat utang menunjukkan penurunan. Alasannya, pada kondisi saat ini investor cenderung memilih instrumen tenor pendek untuk meredam gejolak. 

Di sisi lain, instrumen tenor panjang hanya dipegang untuk menanti momentum saat pasar pulih. Kondisi tersebut juga mengakibatkan investor meminta yield lebih tinggi karena risiko yang meningkat. Sebagai imbasnya, harga surat utang menurun.

Dia memperkirakan harga surat utang bergerak di kisaran 25 basis poin hingga 55 basis poin. 

"Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariasi dengan potensi pergerakan harga 25 – 55 bps," ujarnya. 

Lebih lanjut, dia menilai terdapat beberapa sentimen yang membayangi pasar obligasi pada perdagangan hari ini. Pertama, tensi perang dagang meningkat akibat tuduhan Huawei, perusahaan teknologi asal China terhadap intimidasi karyawannya dan AS dianggap telah mengganggu kelangsungan bisnis perusahaan. 

Seperti diketahui, Huawei masuk dalam daftar hitam penyuplai barang asal China. Huawei masuk daftar hitam akibat dianggap mencuri teknologi asal Negara Paman Sam dan diduga bakal melakukan spionase melalui instalasi teknologi 5G.

Padahal kelanjutan negosiasi perang dagang direncanakan berlangsung pada Kamis (5/9/2019). Di sisi lain, Trump juga menekan agar China menyepakati poin diskusi dalam negosiasi. 

Alasannya, Trump menyebut bila keaepakatan dibuat ketika masa jabatan keduanya sebagai presiden AS, kesepakatan muskil tercipta. Oleh karena itu, Trump menekan China agar tak membuang waktu dengan langsung menyetujui opsi-opsi yang ditawarkannya. 

Kedua, India mengalami pertumbuhan ekonomi lebih rendah sehingga dianggap masuk ke fase resesi quasi. Adapun, pertumbuhan ekonomi India mencetak angka terendah sejak 2012 sehingga meningkatkan kekhawatiran. 

Indikator lain yakni penjualan mobil juga turun dan indikator high frequency dari Bloomberg menyarankan bahwa kegiatan ekonomi terus melemah pada Juli, dengan investasi dan konsumsi keduanya jatuh. 

Atas proyeksi tersebut, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see pada perdagangan hari ini.

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top