BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Rupiah Berpotensi Terluka

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Kamis (22/8/2019) rupiah berada di level Rp14.239 per dolar, menguat tipis 0,03% atau 4,5 poin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  18:41 WIB
BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Rupiah Berpotensi Terluka
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Keputusan di luar dugaan Bank Indonesia untuk kembali memangkas suku bunga acuan dinilai akan melukai kinerja rupiah dalam jangka pendek.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa sesungguhnya dalam jangka panjang keputusan Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan berpotensi menjadi katalis positif bagi rupiah karena dapat menstimulus perekonomian Indonesia.

“Namun, dalam jangka pendek ada risiko pelemahan bila Bank Sentral AS tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga acuannya. Rupiah berpotensi dapat kembali ke level Rp14.300 per dolar AS lagi,” ujar Ariston kepada Bisnis, Kamis (22/8/2019).

Sebagai informasi, BI memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5,50%, tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang mengharapkan BI untuk tetap mempertahankan suku bunga.

Pemangkasan suku bunga acuan BI disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global dan konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi di bawah titik tengah sehingga mendukung stabilitas eksternal. Langkah tersebut juga dinilai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak perlambatan ekonomi global.

rupiah

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa BI terlalu tergesa-gesa untuk memangkas suku bunga acuan dan menilai keputusan tersebut seharusnya ditunda menanti pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada pertemuan tahunan The Fed di Jackson Hole akhir pekan ini.

Dia juga mengatakan, pemangkasan suku bunga acuan yang seharusnya dapat menopang kinerja rupiah kemungkinan akan bekerja sebaliknya sehingga rupiah diprediksi akan bergerak negatif.

Bahkan, rupiah diprediksi dapat melemah tajam jika ternyata Jerome Powell mengeluarkan komentar yang hawkish dan tidak memangkas suku bunga acuannya pada September seperti yang diekspektasikan pasar.

“Sesungguhnya, dengan BI hanya melakukan intervensi valas dan obligasi di pasar DNDF itu saja sudah cukup membantu,” ujar Ibrahim kepada Bisnis.

Selain itu, momentum pemangkasan suku bunga acuan BI dinilai kurang tepat karena tidak terdapat sinyal perang dagang AS dan China akan tereskalasi dalam waktu dekat yang dapat memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global.

Gubernur BI

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Kamis (22/8/2019) rupiah berada di level Rp14.239 per dolar, menguat tipis 0,03% atau 4,5 poin.

Ibrahim memprediksi rupiah bergerak menguat tipis di kisaran level Rp14.190 per dolar AS hingga Rp14.260 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/8/2019) seiring dengan pasar menanti pidato Jerome Powell.

Di sisi lain, Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa dirinya telah memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuan pada RDG kali ini dipicu oleh potensi perlambatan ekonomi global.

“Karena satu-satunya cara bagi BI untuk menjaga momentum pertumbuhan Indonesia adalah dengan cara pelonggaran kebijakan moneter,” kata Deddy kepada Bisnis.

Dia tidak menilai keputusan BI merupakan sebuah keputusan yang tergesa-gesa karena dirinya yakin BI telah melihat banyak faktor sebelum memutuskan sebuah kebijakan.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa saat ini pasar belum terlalu merespon keputusan tersebut dan rupiah berpotensi untuk menguat dalam rentang terbatas di kisaran level Rp14.180 per dolar AS hingga Rp14.270 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, suku bunga acuan

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top