Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI Pangkas Suku Bunga, Harga SUN Menanjak

Harga surat utang negara ditutup menguat pada perdagangan Kamis (22/8/2019) terangkat oleh sentimen pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  17:08 WIB
Ilustrasi - JIBI
Ilustrasi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Harga surat utang negara (SUN) naik sebagai respons pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dari 5,75% menjadi 5,5%.

Analis fixed income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan keputusan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga cukup mengejutkan bagi pelaku pasar.

Sebelumnya, pihaknya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga yang telah tereduksi pada Juli dari 6% menjadi 5,75% itu. Namun, rapat dewan gubernur (RDG) pada Kamis (22/8/2019) memutuskan bahwa suku bunga turun dari 5,75% menjadi 5,5%.

Sebagai imbasnya, Made mengatakan harga SUN naik. Beberapa seri SUN yang mengalami kenaikan, yakni seri FR0078 yang harganya naik 30 basis poin (bps) dibandingkan dengan penutupan kemarin dan yield turun menjadi 7,21%. Hal yang sama juga terjadi pada seri FR0082 yang mengalami kenaikan harga sebesar 30 bps sehingga yield turun menjadi 7,24%.

“Artinya meskipun keputusan hari ini cukup mengejutkan di mana estimasi dari pelaku pasar BI masih mempertahankan suku bunga acuan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (22/8/2019).

Meskipun suku bunga acuan turun, dia menyebut proyeksi yield SUN tenor 10 tahun masih dipertahankan di level 7,11% pada akhir tahun.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi di bawah titik tengah, tetap menariknya imbal hasil aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta langkah preemptive untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak perlambatan ekonomi global.

Untuk merespons kondisi tersebut, sejumlah bank sentral dunia melakukan pelonggaran moneter termasuk yang dilakukan oleh The Fed pada Juli 2019.

Dinamika ekonomi global perlu dipertimbangkan dalam upaya menjaga ekonomi domestik dan aliran modal asing.

Nilai tukar rupiah masih bergerak sesuai dengan fundamentalnya sehingga menopang ketahanan ekonomi domestik. Ke depan, rupiah akan bergerak stabil seiring dengan prospek aliran modal asing yang tetap terjaga seiring ekonomi domestik yang baik dan imbal hasil yang menarik.

"Sehingga mendukung stabilitas eksternal serta langkah preventif untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dan dampak perlambatan global," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top