Ekonomi China Diberi Stimulus Moneter, Harga Aluminium Terangkat

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (19/8/2019) harga aluminium di bursa London menguat 0,11% menjadi US$1.794 per ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  17:27 WIB
Ekonomi China Diberi Stimulus Moneter, Harga Aluminium Terangkat
Pekerja melakukan pengecoran produk aluminium di pabrik milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Aluminium menyentuh level tertingginya dalam 2 pekan terakhir seiring dengan reaksi pasar terhadap Bank Sentral China yang meluncurkan reformasi suku bunga untuk mendorong ekonomi China, konsumen logam terbesar di dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (19/8/2019) harga aluminium di bursa London menguat 0,11% menjadi US$1.794 per ton, setelah pada pertengahan perdagangan menyentuh US$1.807,50 per ton, tertinggi sejak 31 Juli.

Sementara itu, harga aluminium di bursa Shanghai juga mencapai level tertinggi dalam 9 bulan pada perdagangan Selasa (20/8/2019) menguat 0,7% di level 14.380 yuan per ton, mengikuti kenaikan di London.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Kopenhagen Ole Hansen mengatakan bahwa reformasi suku bunga China yang dirancang untuk mengarahkan biaya pinjaman yang lebih rendah bagi pelaku usaha dan diharapkan dapat mendukung ekonomi yang melambat telah menjadi katalis positif bagi logam dasar.

“Kita bisa melihat pasar merespons langkah China tersebut dan membuat imbal hasil obligasi diperdagangkan sedikit lebih tinggi, saham lebih tinggi, dan hal itu juga membuat short-covering pada logam dasar,” ujar Ole seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/8/2019).

Reformasi suku bunga China juga memicu harapan Bank Sentral China dapat menurunkan suku bunga acuannya sehingga dapat mendorong pemulihan harga singkat pada logam dasar di tengah kekhawatiran pasar terhadap pasokan aluminium akibat banjir di provinsi Shandong di China, produsen besar logam.

Kendati demikian, Marex Spectron dalam risetnya mengatakan bahwa investor tetap menunjukkan kekhawatirannya terhadap potensi gangguan dari banjir. Adapun, banjir itu menyusul topan Lekima, yang melanda pekan lalu, menyebabkan kerugian ekonomi China hingga miliaran dolar.

China Hongqiao Group, produsen aluminium terbesar di dunia, mengatakan bahwa pertambangannya tetap beroperasi seperti biasa setelah topan menghantam provinsi asalnya dan memastikan tidak terdapat pengurangan pasokan aluminium akibat bencana alam tersebut.

Sebagai informasi, persediaan aluminium di gudang yang dilacak oleh Shanghai Futures Exchange turun ke level terendah sejak April 2017 di 387.663 ton, sedangkan persediaan LME turun ke level terendah sejak 23 Juli.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan bahwa pemerintah AS akan memperpanjang penangguhan hukuman yang diberikan kepada Huawei Technologies yang memungkinkan perusahaan China untuk membeli pasokan dari bisnis AS, meskipun perusahaan teknologi China tersebut sempat masuk ke dalam daftar hitam AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aluminium, logam industri

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top