Harga Batu Bara Turun, Kinerja Indo Tambangraya Megah (ITMG) Tertekan

PT Indo Tambangraya Megah Tbk. mengalami penurunan laba bersih 31% secara tahunan pada semester I/2019. Jumlah yang dikantongi perseroan turun dari US$103 juta pada semester I/2018 menjadi US$69 juta per 30 Juni 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 19 Agustus 2019  |  16:43 WIB
Harga Batu Bara Turun, Kinerja Indo Tambangraya Megah (ITMG) Tertekan
Ilustrasi pertambangan batu bara - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA— PT Indo Tambangraya Megah Tbk. mengalami penurunan laba bersih 31% secara tahunan pada semester I/2019 2019 akibat pelemahan harga batu bara.

Direktur Keuangan Indo Tambangraya Megah Yulius Gozali menjelaskan bahwa ekonomi global mengalami tekanan akibat perang dagang. Kondisi itu menyebabkan turunnya permintaan batu bara dunia, khususnya dari China.

Kondisi itu menurutnya turut berimbas terhadap harga batu bara yang cenderung menurun. Emiten berkode saham ITMG itu mencatat harga rata-rata batu bara senilai US$68,8 per ton pada semester I/2019. Realisasi itu turun 16% dibandingkan dengan US$80,9 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Aktivitas pertambangan ITMG/http://www.itmg.co.id

Kendati demikian, Yulius menyebut pendapatan bersih perseroan naik 10% secara tahunan dari US$809 juta pada semester I/2018 menjadi US$893 juta pada semester I/2019. Pencapaian itu ditopang naiknya volume penjualan sebesar 28% secara tahunan menjadi 12,3 juta ton.

Akan tetapi, dia menyebut terjadi penurunan laba bersih 31% secara tahunan pada semester I/2019. Jumlah yang dikantongi perseroan turun dari US$103 juta pada semester I/2018 menjadi US$69 juta per 30 Juni 2019.

“Utamanya karena pelemahan harga batu bara,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Sejalan dengan kenaikan volume penjualan, Yulius menyebut hal itu turut mengerek volume produksi dan biaya produksi. Sebagai catatan, beban pokok pendapatan perseroan naik 25,23% secara tahunan pada semester I/2019.

Biaya penambangan, misalnya, naik 37,54% dari US$276,24 juta pada semester I/2018 menjadi US$379,95 juta pada semester I/2019. Selanjutnya, transportasi batu bara juga naik 12,96% secara tahunan menjadi US$41,92 juta pada semester I/2019.

Adapun, kenaikan juga terjadi pada biaya bahan bakar dan minyak 31,56% menjadi US$14,55 juta per 30 Juni 2019.

Dengan rata-rata harga jual yang lebih rendah dan biaya yang lebih tinggi, imbuh Yulius, marjin laba kotor turun dari 28% pada semester I/2018 menjadi 18% pada semester I/2019.

Di sisi lain, Yulius melaporkan perseroan menghasilkan 11,4 juta ton batu bara pada semester I/2019. Volume produksi ditargetkan mencapai 23,6 juta ton dan volum penjualan 26,5 juta ton tahun ini.

Map ITMG

Map of Operation ITMG/http://www.itmg.co.id

Pada semester I/2019, ITMG tercatat mengapalkan batu bara ke China 4,0 juta ton, Jepang 2,0 juta ton, Indonesia 1,6 juta ton, India 0,8 juta ton, Filipina 0,8 juta ton, Bangladesh 0,6 juta ton, dan negara-negara lain di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ITMG menguat 50 poin atau naik 0,39% ke level Rp12.950 pada penutupan perdagangan, Senin (19/8/2019). Untuk periode berjalan 2019, saham produsen batu bara itu tercatat telah mengalami koreksi 36,05%.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, analis Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo menurunkan peringkat ITMG menjadi hold. Selain itu, target harga dipangkas dari Rp24.500 menjadi Rp13.650.

Thomas menuliskan terdapat kemungkinan harga batu bara sedikit mengalami pemulihan sejalan dengan masuknya musim dingin di China. Akan tetapi, pihaknya memprediksi harga batu bara masih di bawah tekanan kerena China kemungkinan akan mempertahankan kebijakan pembatasan impor dan kelebihan pasokan yang merajalela.

Dalam riset lainnya, Andy Wibowo Gunawan, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih mempertahankan target harga di Rp18.550 untuk saham ITMG. Pihaknya memberikan rekomendasi beli kepada produsen batu bara tersebut.

Andy menilai positif pertumbuhan berbasis akusisi yang ditempuh perseroan. Langkah itu seharusnya dapat memperkuat keunggulan kompetitif ITMG pada masa depan.

“Risiko downside termasuk perubahan peraturan dan harga batu bara global yang lebih rendah,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indo tambangraya megah, kinerja emiten

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top