Penjualan Ritel Redakan Kekhawatiran Ekonomi, Dolar AS Menguat

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan pagi ini, Jumat (16/8/2019), di tengah meredanya kekhawatiran soal ekonomi Negeri Paman Sam.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  11:24 WIB
Penjualan Ritel Redakan Kekhawatiran Ekonomi, Dolar AS Menguat
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan pagi ini, Jumat (16/8/2019), di tengah meredanya kekhawatiran soal ekonomi Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, naik tipis 0,070 poin atau 0,07 persen ke level 98,214 pada pukul 10.03 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (15/8), indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, ditutup menguat 0,16 persen atau 0,157 poin di level 98,131, kenaikan hari ketiga beruntun.

Greenback bergerak menuju kenaikan mingguannya terhadap mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss. Sebelumnya, pergerakan dolar AS sempat terdampak keresahan atas kekhawatiran resesi dan aksi unjuk rasa di Hong Kong yang mengguncang pasar keuangan.

Sementara itu, data teranyar yang menunjukkan lonjakan penjualan ritel AS pada Juli memberi kelegaan kepada investor setelah kondisi pasar obligasi AS sempat mengindikasikan tanda-tanda resesi.

Konsumen, yang menyumbang sekitar 70 persen dari ekonomi AS, meningkatkan pengeluaran mereka di bulan Juli, menurut Departemen Perdagangan AS.

Pada saat yang sama, Walmart Inc melaporkan hasil yang mengalahkan estimasi pendapatan kuartal kedua dan menaikkan prospek setahun penuh. Hal ini mendorong saham peritel dunia tersebut naik 6,1 persen dan menenangkan kekhawatiran tentang memudarnya permintaan konsumen.

Namun, sebagian pedagang berpendapat ketenangan yang tengah dialami pasar saat ini tidak akan bertahan lama.

Inversi dalam kurva imbal hasil Treasury AS pekan ini, yang secara historis telah mengawali beberapa kondisi resesi AS di masa lampau, telah memicu kekhawatiran baru tentang dampak ekonomi dari perang perdagangan AS-China.

Pada Kamis (15/8), China bersumpah akan membalas rencana pengenaan tarif terbaru oleh pemerintah AS terhadap barang-barang China senilai US$300 miliar.

Namun Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa setiap perjanjian harus berdasarkan ketentuan Amerika. Ini menunjukkan resolusi untuk perang perdagangan tetap sulit dipahami.

Trump, yang mengincar masa jabatan kedua dalam agenda pilpres 2020 serta telah menjadikan ekonomi dan sikap kerasnya terhadap Tiongkok sebagai bagian penting dari kampanye 2016-nya untuk Gedung Putih, mengatakan perjanjian apa pun harus memenuhi tuntutan AS.

Di sisi lain, aksi unjuk rasa lebih lanjut yang diperkirakan akan terjadi di Hong Kong selama akhir pekan, dapat menjadi titik api geopolitik baru dan semakin memperumit perang perdagangan AS-China.

“Poin terpenting adalah ada lebih banyak tanda-tanda perlambatan ekonomi global,” kata Tsutomu Soma, manajer umum solusi bisnis pendapatan tetap di SBI Securities, Tokyo.

“Suku bunga akan terus turun, dan investor akan menarik diri dari aset risiko. Ini berarti aliran dana akan meninggalkan pasar negara berkembang dan beralih ke obligasi, franc Swiss, emas, dan yen,” terangnya.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi

16/8/2019

(Pk. 10.03 WIB)

98,214

(+0,07 persen)

15/8/2019

 

98,144

(+0,16 persen)

14/8/2019

 

97,987

(+0,18 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top