Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Saham Global Tak Lagi Babak Belur, Risiko Masih Mengancam

"Ada banyak risiko untuk membuat investor tetap di ujung tanduk, mulai dari perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China hingga potensi Brexit [keluarnya Inggris dari Uni Eropa] tanpa kesepakatan,” tulis pakar strategi di UBS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  19:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global berhasil menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (16/8/2019), didongkrak tumbuhnya ekspektasi stimulus lebih lanjut oleh bank-bank sentral dunia.

Sentimen tersebut mengimbangi kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang tampak intensif pekan ini setelah kurva imbal hasil Amerika Serikat (AS) berinversi untuk pertama kalinya sejak 2007.

Berdasarkan data Reuters, indeks saham acuan kawasan Eropa Stoxx 600 dibuka menanjak 0,7 persen bersama dengan indeks DAX Jerman yang sensitif terhadap isu-isu perdagangan.

Adapun mayoritas bursa saham di negara-negara Asia seperti Jepang, Hong Kong, China berhasil menutup perdagangan hari ini di zona hijau setelah mengalami pekan yang penuh gejolak akibat tertekan ketidakpastian perdagangan dan kekhawatiran atas pertumbuhan global.

Secara keseluruhan, All Country World Index, yang melacak pergerakan pasar ekuitas di 47 negara, naik 0,2 persen. Meski mampu membukukan kenaikan hari ini, indeks tersebut masih bergerak menuju pelemahan pekan ketiga berturut-turut, dengan turun 2,2 persen.

Pasar saham global terpukul pekan ini setelah kurva imbal hasil AS, perbedaan antara imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun dan 2 tahun, terbalik (inversi) untuk pertama kalinya dalam 12 tahun pada Rabu (14/8/2019).

Tiga indeks saham utama AS di bursa Wall Street serta merta anjlok karena kekhawatiran resesi. Padahal, sehari sebelumnya, Wall Street mampu naik tajam setelah pemerintah AS mengumumkan menunda pengenaan tarif 10 persen pada sejumlah barang asal China.

Inversi kurva imbal hasil ini adalah yang pertama kalinya sejak Juni 2007. Sejak 50 tahun terakhir, kurva imbal hasil obligasi AS diketahui selalu berbalik sebelum terjadinya resesi. Itulah mengapa kurva imbal hasil menjadi barometer ekonomi yang benar-benar dipantau.

"Ada banyak risiko untuk membuat investor tetap di ujung tanduk, mulai dari perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China hingga potensi Brexit [keluarnya Inggris dari Uni Eropa] tanpa kesepakatan,” tulis pakar strategi di UBS.

Tekanan bertambah setelah Jerman mencatat kontraksi dalam produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua, sedangkan pertumbuhan industri China pada bulan Juli mencapai level terendah dalam 17 tahun terakhir.

“Ketidakpastian telah menggerogoti ekonomi, produk domestik bruto Jerman menyusut pada kuartal kedua,” tambahnya.

Sementara itu, eskalasi tensi perdagangan AS-China masih bertahan. Pada Kamis (15/8/2019), pemerintah China bersumpah akan melawan rencana pengenaan tarif oleh pemerintah AS terhadap barang-barang Tiongkok senilai US$300 miliar.

Dengan absennya resolusi perdagangan, investor melakukan lindung nilai terhadap perlambatan global melalui pembelian obligasi.

Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun turun ke rekor terendahnya yakni 1,916 persen pada Kamis (15/8), sekaligus menjadikannya turun 27 basis poin untuk pekan ini, penurunan paling tajam sejak pertengahan 2012.

Penjualan ritel AS yang secara tak terduga menunjukkan hasil kuat tidak memengaruhi reli obligasi. Namun, data teranyar yang menunjukkan lonjakan penjualan ritel AS pada Juli memberi kelegaan kepada investor setelah kondisi pasar obligasi AS sempat mengindikasikan tanda-tanda resesi.

Konsumen, yang berkontribusi sekitar 70 persen dari ekonomi AS, meningkatkan pengeluaran mereka pada bulan Juli, menurut Departemen Perdagangan AS.

Sebagian analis mengatakan pasar obligasi saat ini berbeda dari sebelumnya dan mungkin tidak mengirimkan sinyal resesi yang sebenarnya.

“Pasar obligasi mungkin salah kali ini, tetapi kami tidak akan mengabaikan sinyal resesi terbaru atas dasar distorsi,” ujar Simon MacAdam, ekonom global di Capital Economics.

“Sebaliknya, ini memberi sedikit kelegaan bagi ekonomi dunia bahwa tidak seperti semua inversi kurva imbal hasil AS sebelumnya, The Fed sudah mulai melonggarkan kebijakan moneter kali ini.”

Sejumlah bank sentral telah bersiap untuk melakukan pelonggaran moneter guna menahan laju perlambatan ekonomi. Federal Reserve diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya lebih lanjut sebesar 50 basis poin dalam pertemuan kebijakan yang digelar September mendatang.

Sementara itu, Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Olli Rehn mengisyaratkan perlunya paket pelonggaran yang signifikan pada bulan September.

Pasar mengantisipasi penurunan suku bunga deposito ECB minimal 10 basis poin dan dimulainya kembali pembelian obligasi. Hal ini membawa imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun ke rekor terendah minus 0,71 persen.

Alarm Terbesar

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa alarm terbesar bagi investor pekan ini bukanlah inversi kurva imbal hasil AS. Alih-alih, dislokasi pasar di Argentina merupakan sinyal jelas untuk keluar dari surat-surat berharga yang tidak likuid dengan segera atau menghadapi penurunan selanjutnya.

Kekhawatiran tentang kemungkinan kembali ke kebijakan intervensionis mencengkeram pasar setelah Presiden Argentina Mauricio Macri tertinggal margin yang lebih dalam dari perkiraan atas oposisinya, Alberto Fernandez, dalam pemilihan pendahuluan pada Minggu (11/8/2019) waktu setempat.

Bursa saham Argentina anjlok hampir 40 persen, nilai tukar peso Argentina melemah 15 persen, diikuti dengan merosotnya obligasi, menurut data Bloomberg.

Data Refinitiv menunjukkan bursa saham Argentina, obligasi, dan peso belum pernah mencatat penurunan simultan macam ini, sejak krisis ekonomi tahun 2001 dan gagal bayar utang, seperti dilansir Reuters.

Dalam catatannya, Analis Bloomberg Cormac Mullen memaparkan bahwa Argentina mewakili cara-cara investor masuk ke aset-aset oleh perburuan untuk imbal hasil.

Negara ini menjual century bond senilai US$2,75 miliar pada 2017 setelah gagal bayar tiga kali dalam 23 tahun sebelumnya. Surat utang tersebut kini diperdagangkan sekitar 50 sen dolar.

Di dunia di mana algoritma dan perdagangan mesin menggantikan broker dan pelaku pasar, ketidakmampuan untuk keluar dari segala hal kecuali posisi yang paling likuid dengan lancar telah menjadi risiko yang semakin besar.

Menurut survei JPMorgan pada bulan Mei, gangguan likuiditas adalah ketakutan terbesar bagi investor kuantitatif.

Yang perlu diingat, investor tidak harus memiliki surat-surat berharga tidak likuid untuk dapat terkena dampak aksi jual. Pemegang seringkali terpaksa menjual lebih banyak aset likuid ketika mereka tidak dapat menemukan pembeli.

“Tidak ada yang bisa memprediksi kapan aksi jual besar-besaran berikutnya akan terjadi, tetapi pantas jika dikatakan bahwa inversi kurva imbal hasil menunjukkan tingginya keresahan investor,” tulis Mullen.

“Peringatan telah bersuara lebih keras dalam beberapa bulan terakhir tentang risiko fund manager dengan berinvestasi dalam aset-aset yang sulit diperdagangkan. Apa yang terjadi di Argentina adalah pengingat untuk diperhatikan,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global bursa saham
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top