Semester I/2019, Belanja Iklan & Promosi Kino Indonesia (KINO) Capai Rp430,36 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk. membukukan kinerja positif pada semester I/2019. Pendapatan emiten bersandi saham KINO itu tumbuh 30,42% secara tahunan menjadi Rp2,22 triliun dan laba bersih tumbuh 409,26% menjadi Rp365,29 miliar pada semester I/2019.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  11:16 WIB
Semester I/2019, Belanja Iklan & Promosi Kino Indonesia (KINO) Capai Rp430,36 Miliar
Kino Indonesia - kino.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Pada semester I/2019, PT Kino Indonesia Tbk. mengucurkan belanja iklan dan ongkos promosi sebesar Rp430,36 miliar atau naik 17,57% dibandingkan dengan semester I/2018 sebesar Rp366,06 miliar.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Kino Indonesia Budi Muljono mengatakan belanja iklan dan promosi itu sejalan dengan strategi perseroan untuk meningkatkan brand awareness produk-produk perseroan.

"Faktor kenaikan permintaan karena effort KINO untuk terus meningkatkan brand awarnees dengan spending yang cukup heavy di A&P (advertisement & promotion)," katanya kepada Bisnis.com, Senin (12/8/2019).

Seiring dengan strategi meningkatkan biaya iklan dan promosi, lanjutnya, perseroan membukukan kinerja positif pada semester I/2019. Pendapatan emiten bersandi saham KINO itu tumbuh 30,42% secara tahunan menjadi Rp2,22 triliun. Pada semester I/2019, segmen personal care berkontribusi 49,04% terhadap penjualan.

Sementara itu, laba bersih KINO melesat 409,26% secara tahunan menjadi Rp365,29 miliar pada semester I/2019. Kenaikan yang signifikan itu terdorong oleh raihan keuntungan pembelian dalam diskon yang mencapai Rp264,21 miliar.

Selain gencar mempromosikan produk-produknya, KINO juga memperluas pasar ekspor. Terkait dengan perluasan pasar ke Asia Selatan setelah mengakuisisi Linanda Consumer India Private Limited, perseroan masih mengandalkan segmen personal care.

"Untuk seluruh market baik domestik dan internasional, personal care tetap menjadi fokus utama," imbuhnya.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto berpendapat bahwa tantangan bagi emiten produsen produk personal care dan kosmetik yakni kompetisi yang semakin ketat dengan produk impor. Meski demikian, sejumlah saham emiten kosmetik masih menarik untuk dikoleksi, seperti UNVR dan KINO.

Kehadiran produk impor dinilai tidak memberikan dampak besar terhadap kedua emiten itu, karena penjualannya tidak hanya mengandalkan segmen personal care. Di samping itu, saham emiten tersebut dinilai lebih likuid.

"Rekomendasi buy untuk UNVR dengan target harga Rp46.000-Rp50.000 dan KINO Rp3.500," katanya.

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham KINO menguat 10,71%. KINO parkir di level harga Rp3.100 per saham yang mencerminkan harga per laba (price earnings ratio/PER sekitar 6 kali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, kino indonesia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top