Kinerja Grup Djarum, Emtek dan MNC di Mata Analis

Kepala Riset Narada Asset Manajemen, Kiswoyo Adi Joe mengatakan bila dibandingkan, di antara ketiga grup konglomerasi ini, dia merekomendasikan Grup Djarum dengan kinerja kinclong BBCA dan prospek menjanjikan bisnis menara pada TOWR.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  07:46 WIB
Kinerja Grup Djarum, Emtek dan MNC di Mata Analis
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja Grup Djarum, Emtek dan MNC dipengaruhi sektor masing-masing konglomerasi sehingga mengakibatkan kinerja ketiga grup tersebut di semester I/2019 bervariasi.

Adapun, kinerja sektor perbankan secara umum masih solid bila dibandingkan dengan sektor media pada semester I/2019. Meskipun secara sektor masih cukup solid dengan pertumbuhan yang melambat, BBCA dari Grup Djarum mampu memimpin dengan pertumbuhan pendapatan 16,1% yakni menjadi Rp34,2 triliun dan laba bersih tumbuh 12,6% menjadi Rp12,9 triliun.

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan secara umum sektor perbankan memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan media. Dia mengakui, investor cenderung melakukan wait and see. Oleh karena itu, secara sektor sebetulnya mengalami pelambatan. Namun, BBCA bisa tumbuh secara solid dibandingkan dengan emiten di sektor yang sama.

“BBCA perform lebih bagus meskipun kalau yang emiten yang lain tumbuhnya melambat dengan single digit,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (31/7/2019).

Sementara itu, untuk Grup MNC dan EMTK, dia tidak berkomentar banyak. Secara umum, bisnis media belum cukup menguntungkan sepanjang semester I/2019. Grup MNC, katanya, masih bergulat dengan kerugian di beberapa emitennya. Sebagai gambaran, MSKY dan IPTV masih harus berupaya membalikkan keadaan dari rugi menjadi laba melanjutkan upaya yang dilakukan pada 2017 dan 2018.

Dikutip dari laporan keuangannya, salah satu emiten grup MNC, BHIT meraup pertumbuhan pendapatan cukup besar yakni 9,3% ke Rp7,83 triliun. Perseroan mengalami kenaikan beban langsung sebesar 15,15% menjadi Rp4,17 triliun.

Kendati demikian, perseroan mampu mengatasi fluktuasi akibat nilai tukar. Sebelumnya, perseroan mendapat kerugian sebesar Rp578,09 miliar pada semester I/2018 namun perseroan mampu membalikkan keadaan di semester I/2019 menjadi Rp193,41 miliar.

“Secara umum, media memang belum bagus kinerjanya. MNC juga dari 2017 sampai 2018 masih rugi,” katanya.

GRUP DJARUM

Dihubungi terpisah, Kepala Riset Narada Asset Manajemen, Kiswoyo Adi Joe mengatakan bila dibandingkan, di antara ketiga grup konglomerasi ini, dia merekomendasikan Grup Djarum dengan kinerja kinclong BBCA dan prospek menjanjikan bisnis menara pada TOWR.

Dia pun merekomendasikan untuk hold bagi BBCA dengan proyeksi harga 32.000. Lalu, untuk TOWR, dia merekomendasikan buy dengan perkiraan harga 850 dari harga pada perdagangan terakhir 760.

“Grup Djarum unggul dengan rekomendasi BBCA hold di 32.000 dan TOWR buy, bisa ke 850,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top