Emiten Pelayaran Penuh Tantangan Mengarungi Semester 2

Berdasarkan catatan Bisnis, dari 5 emiten pelayaran yang melaporkan kinerjanya sepanjang semester I/2019, seluruhnya mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Kendati demikian, tidak seluruhnya mampu meraih pertumbuhan pada laba perseroan.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  07:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas emiten pelayaran sepanjang periode semester I/2019 mampu mencetak laba bersih dan mencatatkan pertumbuhan pendapatan, kendati dari lini bisnis kapal pengangkutan masih penuh tantangan.

Berdasarkan catatan Bisnis, dari 5 emiten pelayaran yang melaporkan kinerjanya sepanjang semester I/2019, seluruhnya mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Kendati demikian, tidak seluruhnya mampu meraih pertumbuhan pada laba perseroan.

Salah satunya adalah, PT Humpus Intermoda Transportasi Tbk. yang  mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang semester I/2019. Menurunnya laba perseroan disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah strategi perseroan yang fokus mencari pangsa pasar.

Adapun, berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal II/2019, emiten berkode saham HITS tersebut mengantongi pendapatan senilai US$43,05 juta, meningkat 19,05 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$36,16 juta.

Sementara itu, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan 14,47 persen menjadi US$6,44 juta dari tahun sebelumnya yang tercatat US$7,53 juta,

Komisaris Utama Humpuss Intermoda Transportasi Theo Lekatompessy menjelaskan bahwa sepanjang periode tersebut perseroan berfokus untuk meningkatkan penguasaan pangsa pasar atau market share.

Dia menjelaskan bahwa perseroan lebih banyak mengerjakan proyek-proyek yang tidak terlalu besar, sehingga hal tersebut berdampak ke laba perseroan.

“Sekarang dengan semakin sempitnya pasar, tender minyak dan gas jatuh dalam beberapa tahun terakhir industrinya tidak bagus, jadi mau tidak mau pekerjaan yang diambil tidak hanya yang untungnya bagus, jadi marginnya tidak begitu bagus, pendapatan tinggi, tapi laba berbeda sedikit,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/7/2019).

Selain itu, dia menambahkan bahwa sepanjang periode tersebut, proyek-proyek strategis yang dikerjakan perseroan tidak memberikan laba yang setebal dulu karena kondisi minyak dan gas yang belum membaik.

Di samping itu , sepanjang semester I/2019, kata Theo, perseroan tidak mendapatkan kontrak-kontrak baru karena seluruh proyek-proyek baru yang ada mengalami penundaan. Sementara itu, dari segmen minyak dan kimia kondisinya tidak jauh berbeda dengan industri gas.

“Sampai dengan Juni tidak ada proyek gas baru, kalau ada proyek baru diperlukan kapal, nah ini tidak ada proyek baru. Intinya tidak ada pasar,”

Adapun, sepanjang 2019 HITS menargetkan pendapatan senilai US$100 juta. Theo mengatakan bahwa perseroan masih berasumsi target tersebut tetap akan tercapai, dengan catatan seluruh proyek potensial yang dibidik perseroan berjalan dengan lancar.

“Jadi kalau tidak tercapai bukan karena tidak ada kemampuan, tapi karena tender atau proyek yang ditargetkan tidak jalan,” jelasnya.

PELITA SAMUDRA (PSSI)

Sementara itu, PT Pelita Samudera Shipping Tbk.  berhasil mengantongi  pendapatan sebesar US$36,1 juta atau mengalami kenaikan sebesar 16 persen dari US$31,1 juta pada 2018.

Di tengah turunnya harga batubara, perseroan berhasil meningkatkan laba bersih sekitar 3 persen menjadi US$4,4 juta per 30 Juni 2019 dari US$4,3 juta. Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan di atas 20 persen sepanjang 2019.

Sementara itu, pertumbuhan pendapatan sewa berjangka (time charter) mengalami kenaikan signifikan sebesar 100 persen dengan pertumbuhan terbesar disumbang oleh lini bisnis terbaru bulk carrier mother vessel (MV) dengan kenaikan hampir 3 kali lipat per 30 Juni 2019 dibandingkan dengan tahun lalu, diikuti oleh jasa kapal tunda dan tongkang (tug and barge) dan floating loading facility (FLF).

Sampai dengan Juni 2019, 3 kapal MV dengan jenis Supramax dan Handysize dari total 5 MV telah mempunyai kontrak time charter jangka panjang dibandingkan dengan hanya 1 MV per 30 Juni 2018. Kapasitas pengangkutan armada MV sebesar 205,6k dwt (deadweight ton) naik hampir 7 kali lipat dari 2018.

Komposisi pendapatan terbesar dari segmen tug dan barge (TNB) sebesar 47 persen dengan kontrak jangka panjang sampai akhir Juni 2019 mencapai rata-rata 75 persen dan 25 persen spot basis. Kontribusi TNB sekitar 51 persen dari total EBITDA. Pencapaian utilisasi kapal cukup tinggi dengan rata-rata 95 persen per semester I/2019.

Dengan beberapa perpanjangan kontrak baru TNB di awal semester II/2019, perseroan menargetkan komposisi kontrak jangka panjang yang lebih tinggi di semester II/2019 dibandingkan semester I/2019,” ujar Sekretaris Perusahaan Imelda Agustina Kiagoes, Selasa (30/7/2019).

Dengan optimisasi aset berupa divestasi 1 unit FLF di September 2018, kinerja FLF tetap memberikan kontribusi pendapatan kedua terbesar sekitar 30 persen, yang komposisi kontrak jangka panjang telah mencapai hampir 90 persen. Perpanjangan kontrak baru FLF juga telah dilakukan di awal semester II/2019 dengan beberapa customer terbesar.

Perseroan telah membelanjakan US$30,3 juta sampai dengan Juni 2019 dari total target anggaran belanja modal (capex) 2019 sebesar US$61,3 juta. Realisasi capex sebesar hampir 50 persen ini untuk pembelian 3 unit kapal MV yang dibeli dalam beberapa bulan terakhir sebagai bagian dari program ekspansi armada. Investasi ini didanai sebagian dari internal kas Perseroan dan pinjaman bank. PSSI menargetkan untuk mendatangkan satu unit kapal MV di semester II/2019 dengan meningkatnya permintaan dalam negeri dan export.

Perseroan terus membangun posisi keuangan yang lebih kuat dengan jumlah aset meningkat sekitar 18 persen per 30 Juni 2019 menjadi US$130,3 juta dari US$110.1 juta per 31 Desember 2018. Jumlah Ekuitas meningkat sekitar 3 persen menjadi US$73,7 juta dari US$71,7 juta per 31 Desember 2018 dengan kenaikan saldo laba (retained earnings) sebesar 8 persen.

Struktur modal perseroan terjaga dengan dengan rasio utang terhadap aset (debt to asset ratio) 34 persen pada semester I/2019, sedikit mengalami kenaikan dari tahun lalu, dengan adanya pinjaman bank yang sebagian besar digunakan untuk ekspansi armada kapal.

BATU BARA

Analis Binaartha Sekuritas Asia mengatakan bahwa untuk bisnis pengangkutan di sektor batu bara dinilai masih akan penuh tantangan dalam beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, melemahnya harga batu bara akan memberikan dampak terhadap bisnis pengangkutan batu bara.

“Kalau untuk perkapalan saya melihat pasti dari menurunnya kinerja harga batu bara global, ini pengaruh acuan batu bara pemerintah, membuat tantangan untuk kapal angkut batu bara untuk berkembang, jadi menurut saya masih perlu disoroti hal tersebut,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (30/7/2019).

Sementara itu, untuk bisnis kapal pengangkutan minyak dan gas dinilai akan sedikit lebih baik mengingat harga minyak dan gas dunia yang bergerak ke arah yang positif.

Dengan membaiknya harga minyak, maka diharapkan permintaan pengangkutan kapal minyak dan gas akan terdampak. “Harga pergerakan minyak akan memberikan katalis positif,” jelasnya.

Adapun, untuk saham emiten perkapalan, dia merekomendasikan saham TRAM untuk dapat dicermati. Menurutnya secara teknikal, saham TRAM direkomendasikan hold dengan targer harga Rp117—Rp119.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten pelayaran, humpuss, multistrada arah sarana, Hits, Pelita Samudera Shipping

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top