Menanti RDG BI, Rupiah Terdepresiasi

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (17/7/2019) hingga pukul 12.06 WIB, mata uang garuda bergerak melemah 0,25% atau 35 poin menjadi Rp13.970 per dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  12:48 WIB
Menanti RDG BI, Rupiah Terdepresiasi
Cash Pooling

Bisnis.com, JAKARTA – Menguatnya greenback pada perdagangan Rabu (17/7/2019) mendorong rupiah berbalik melemah di tengah investor yang menanti hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Kamis (18/7) terkait pemangkasan suku bunga.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (17/7/2019) hingga pukul 12.06 WIB, mata uang garuda bergerak melemah 0,25% atau 35 poin menjadi Rp13.970 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa pelemahan rupiah didorong oleh data ekonomi AS yang positif dan isu Bank Sentral Indonesia yang akan memangkas suku bunga mendahului langkah The Fed.

Berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan oleh Reuters, mayoritas analis cenderung berekspektasi Bank Indonesia akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada rapat yang akan diselenggarakan pada Kamis (18/7/2019).

Selain itu, data penjualan ritel AS periode Juni berhasil dirilis lebih baik dari ekspektasi, yaitu tumbuh 0,4% dibandingkan dengan estimasi analis yang hanya tumbuh 0,2%.

“Hasil ini mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tidak akan terlalu dalam sehingga dolar AS berbalik menguat,” ujar Ariston kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak melemah tipis 0,07% di level 97,331.

Oleh karena itu, dia memprediksi rupiah akan ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini dan bergerak di kisaran Rp13.900 per dolar AS hingga Rp14.000 per dolar AS.

Sementara itu, Kepala Ahli Strategi FX Asia Scotiabank Qi Cao mengatakan bahwa pihaknya telah memangkas target posisi pendek untuk rupiah menjadi Rp13.800 per dolar AS.

Hal tersebut seiring dengan rencana reformasi Presiden RI terpilih Joko Widodo diharapkan akan meningkatkan mata uang dengan imbal hasil tinggi ke depannya.

Dia menilai sikap dovish The Fed telah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk memberikan penurunan suku bunga, sementara yuan yang stabil telah membuka jalan bagi bank sentral untuk melonggarkan tanpa risiko penurunan nilai tukar rupiah.

“Bias pelonggaran kebijakan akan menurunkan hasil obligasi pemerintah Indonesia lebih lanjut, menarik aliran masuk portofolio obligasi dan menopang pergerakan rupiah,” papar Qi Cao.

Adapun, rupiah telah berhasil menjadi mata uang dengan kinerja penguatan terbaik di Asia sepanjang bulan ini. Mata uang Garuda berhasil menguat lebih dari 2,62% dan belum lama ini berhasil menembus level psikologisnya, bergerak di bawah Rp14.000 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, Rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top