Kondisi Ekonomi & Politik Positif, Ini Rekomendasi Investasi Pilihan Bank Commonwealth

Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian domestik dan global.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  12:07 WIB
Kondisi Ekonomi & Politik Positif, Ini Rekomendasi Investasi Pilihan Bank Commonwealth
Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya (kanan) memberikan penjelasan saat peluncuran aplikasi CommBank SmartWealth, di Jakarta, Kamis (17/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian domestik dan global.

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan bahwa pasar saham Indonesia rebound sepanjang Juni 2019, bersamaan dengan rebound-nya pasar obligasi.

Menurutnya, investor global masih melihat negara emerging market, terutama Indonesia sebagai tujuan investasi. Beberapa faktor pendorongnya di antaranya keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak gugatan sengketa Pemilihan Presiden 2019-2024, dan menjadikan drama Pemilihan Umum Indonesia 2019 berakhir. 

Terjaganya kondisi politik dalam negeri merupakan sentimen yang positif untuk mengundang dana asing kembali masuk ke pasar investasi Indonesia.

Selain itu, koalisi pemerintahan yang tetap solid merupakan nilai tambah, yang akan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Fundamental yang kuat juga diperkuat dengan keputusan S&P, sebagai lembaga peringkat utang internasional, dengan menaikkan peringkat utang Indonesia satu tingkat ke “BBB” dan outlook stabil pada akhir Mei lalu. 

Sesuai dengan misi Presiden Joko Widodo, pada periode keduanya ini pembangunan masih akan berlanjut dengan berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, struktur ekonomi 
mandiri, dan pembangunan yang merata.

Sentimen positif lainnya adalah pertemuan G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang, pada akhir Juni 2019 yang berakhir positif sesuai dengan ekspektasi pasar.

Amerika Serikat dan China sepakat untuk kembali melanjutkan rancangan  perjanjian dan juga menangguhkan tarif untuk sementara waktu.

Setelah pertemuan G20, Presiden Donald Trump pun mengunjungi Korea Utara dan untuk pertama kali sepanjang sejarah dunia, Presiden Amerika Serikat menginjakkan kaki di tanah Korea Utara. 

Sentimen positif juga datang dari The Fed yang membuka  pintu untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam rangka mengurangi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akibat perang dagang. 

Melihat hal tersebut, Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana untuk menjadi pilihan pertama untuk investasi khususnya reksa dana saham atau reksa dana pendapatan tetap tergantung dari profil risiko dan jangka waktu investasi.

“Hingga akhir tahun 2019 kami masih lebih positif di kelas aset saham, dengan  pertimbangan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan menjadi salah satu alasan dana asing kembali masuk ke Indonesia. Untuk Anda dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio,” jelas 

Ivan menjelaskan, nasabah Bank Commonwealth  menyukai produk dengan catatan kinerja yang baik. Reksa dana saham secara historikal masih memberikan imbal hasil yang tertinggi dalam jangka panjang dibandingkan dengan reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap serta reksa dana campuran. 

“Oleh karena itu, kami memutuskan memulai kerja sama dalam mendistribusikan reksa dana di bawah kelolaan Sucorinvest Asset Management yaitu Sucorinvest Equity Fund di mana secara kinerja produk ini memberikan imbal hasil sebesar 79,27% dalam 3 tahun terakhir, sementara tolok ukur IHSG memberikan imbal hasil sebesar 26,75% [per Juni 2019],” jelas Ivan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, commonwealth bank

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top