AS Ancam Naikkan Tarif Baja untuk China dan Meksiko

Departemen Perdagangan AS akan menerapkan tarif impor mulai dari 30,3% hingga 177,43% untuk baja China dan tarif sebesar 74,01% untuk baja Meksiko.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  08:39 WIB
AS Ancam Naikkan Tarif Baja untuk China dan Meksiko
Ilustrasi proses pembuatan pipa di sebuah pabrik baja. Foto tmk/group.com

Bisnis.com, JAKARTA - Seperti belum puas untuk memberikan beberapa ancaman perdagangan kepada banyak mitra dagangnya selama 4 tahun berjalan masa kepemimpinannya, Pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini mengancam akan menaikkan tarif impor baja untuk China dan Meksiko.

Melansir Bloomberg, Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa pihaknya menemukan China dan Meksiko secara tidak adil mensubsidi ekspor baja struktural fabrikasi dan mengancam akan memberlakukan tarif impor baru pada baja dari kedua negara tersebut.

Departemen Perdagangan AS akan menerapkan tarif impor mulai dari 30,3% hingga 177,43% untuk baja China dan tarif sebesar 74,01% untuk baja Meksiko.

Sebelumnya, Komisi Perdagangan Internasional AS mengatakan pada Maret lalu bahwa impor baja struktural buatan dari tiga negara produsen utama baja bagi AS, yaitu Kanada, China, dan Meksiko, telah merugikan produsen dalam negeri.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, sepanjang 2018, Amerika Serikat mengimpor baja struktural buatan senilai US$722,5 juta dari Kanada, US$897,5 juta dari China, dan US$622,4 juta dari Meksiko.

Kendati demikian, Departemen Perdagangan AS mengatakan tidak menemukan subsidi signifikan pada perdagangan baja struktural buatan asal Kanada sehingga tidak memasukkan Negeri Sirup Maple tersebut ke dalam daftar ancaman kenaikan tarif baja.

Adapun, baja struktural buatan digunakan dalam proyek bangunan besar, seperti jembatan, bangunan, geladak parkir, dan pelabuhan. Salah satu kelompok perdagangan industri AS telah mengajukan petisi yang meminta kasus perdagangan baja tersebut segera dibuka.

Departemen Perdagangan AS diperkirakan membuat keputusan final terkait kebijakan tarif impor tersebut pada 19 November mendatang.

Sementara itu, Pemerintah Meksiko mengatakan dalam keterangan resminya, bahwa penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan AS merupakan proses normal terkait kasus anti-dumping.

Hal tersebut terpisah dari tarif baja dan aluminium yang diberlakukan tahun lalu oleh AS atas masalah keamanan nasional.

"Pihak kami [Kementerian Ekonomi Meksiko] akan membela kepentingan perusahaan yang sedang diselidiki, dan kami secara aktif juga berpartisipasi dalam prosedur anti-subsidi sejak awal 2019," tulis Pemerintah Meksiko dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/7/2019).

Sebagai informasi, impor baja AS untuk 5 bulan pertama 2019 telah turun hampir 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

American Iron and Steel Institute melaporkan bahwa total konsumsi tahunan domestik AS untuk baja struktural buatan sebesar 4,7 juta ton, dengan sebanyak 3,4 juta ton disediakan oleh produksen asal AS dan sebesar 1,3 juta berasal dari impor.

HARGA BERJANGKA
Di sisi lain, harga baja rebar di bursa Shanghai pada perdagangan Selasa (9/7/2019) berhasil berbalik positif naik 1,15% menjadi 4.048 yuan per ton, sedangkan harga Hot-Rolled Coil bergerak menguat 1,5% menjadi 3.924 yuan per ton.

Kenaikan tersebut didorong oleh data penjualan mobil China yang berhasil dirilis meningkat untuk pertama kalinya dalam tahun ini.

Sementara itu, harga bijih besi berjangka juga berhasil melonjak untuk dua perdagangan berturut-turut karena gangguan pasokan dan permintaan yang kuat di China memacu defisit global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (9/7/2019), harga bijih besi di bursa Dalian naik 4,37% menjadi 883 yuan per ton, sedangkan harga bijih besi di bursa Singapura naik 2,97% menjadi US$115,71 per ton.

Analis Huatai Futures Co Sarah Zhao mengatakan bahwa tidak terdapat perubahan fundamental pada bijih besi karena defisit pasokan global tahun ini akan sulit untuk diisi.

"Harga produk menengah dan bermutu tinggi bijih besi berada dalam posisi yang baik sekarang karena tingkat persediaan pelabuhan mereka rendah," ujar Sarah seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (9/7/2019).

Namun, berdasarkan data Shanghai Steelhome E-commerce, total persediaan bijih besi di pelabuhan China meningkat 0,3% pada pekan lalu, menjadi pertumbuhan untuk pertama kali sejak awal April.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top