Ini Alasan Grup Adaro Kucurkan US$100 Juta ke Trada Alam Minera (TRAM)

Trada Alam Minera melaporkan perjanjian pinjaman dengan Adaro Capital Limited (ACL) senilai US$100 juta telah diteken pada 5 Juli 2019. Utang itu memiliki bunga pinjaman 12% per tahun dan jangka waktu 4 tahun sejak penarikan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  16:30 WIB
Ini Alasan Grup Adaro Kucurkan US$100 Juta ke Trada Alam Minera (TRAM)
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Energy Tbk. menuturkan pemberian pinjaman oleh Adaro Capital Limited kepada PT Trada Alam Minera Tbk. sejalan dengan strategi bisnis dan rencana menggarap peluang di sepanjang rantai pasok komoditas batu bara.

Trada Alam Minera melaporkan perjanjian pinjaman dengan Adaro Capital Limited (ACL) senilai US$100 juta telah diteken pada 5 Juli 2019. Utang itu memiliki bunga pinjaman 12% per tahun dan jangka waktu 4 tahun sejak penarikan.

Adapun, pinjaman yang diperoleh dijamin dengan jaminan berupa 100% milik PT Black Diamond Energy dan PT Batu Kaya Berkat dalam PT Gunung Bara Utama.

Dalam laporan tahunan 2018 Adaro Energy, Manajemen menjelaskan bahwa ACL merupakan pilar yang didirikan untuk menjadi pusat treasury Grup Adaro untuk investasi instrumen keuangan di luar Indonesia.

Namun, dalam perkembangannya, ACL menemukan peluang transaksi yang menyebabkan terjadi akuisisi pada 2018 terhadap kepemilikan Rio Tinto atas Kestrel coal mine (Kestrel) meliputi porsi 80% dalam suatu usaha patungan dengan EMR Capital, private equity manager spesialis pertambangan.

Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menuturkan transaksi itu sejalan dengan bisnis ACL. Menurutnya, lini tersebut terus mencari peluang investasi yang menguntungkan bagi Grup Adaro.

Model bisnis Trada Alam Minera, lanjutnya, mirip dengan yang dijalankan oleh Grup Adaro.

“Sinergi yang diciptakan antara keduanya akan memungkinkan kami untuk membuka banyak peluang di sepanjang rantai pasokan batu bara di Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (9/7).

Sebagai catatan, ADRO akan mempertahankan produksi batu bara di level 54 juta ton hingga 56 juta ton dalam 15 tahun—20 tahun ke depan. Kisaran tersebut juga sekaligus menjadi panduan target produksi perseroan pada 2019.

Sampai kuartal I/2019, ADRO merealisasikan penjualan 13,31 juta ton. Pencapaian itu naik 22% secara tahunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, adaro

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top