Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Menunggu Pertemuan Trump-Xi, Dolar AS Bergerak Menguat

Dolar Amerika Serikat bergerak di zona hijau pada perdagangan Jumat (28/6/2019) karena investor menunggu pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinpin di sela KTT G20 akhir pekan ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  09:28 WIB
Ilustrasi Dolar AS - Reuters
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat bergerak di zona hijau pada perdagangan Jumat (28/6/2019) karena investor menunggu pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinpin di sela KTT G20 akhir pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama terpantau menguat 0,02 persen atau 0,015 poin ke level 96,209 pada pukul 08.49 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar AS dibuka cenderung flat dengan menguat hanya 0,003 poin ke posisi 96,191, setelah pada akhir perdagangan Kamis ditutup melemah 0,02 poin atau 0,02 persen ke level 96,194.

Sentimen mulai membaik sejak Kamis (27/6) sebelumnya setelah South China Morning Post mengatakan Washington dan Beijing membuat perjanjian untuk menunda tarif pada impor China senilai US$300 miliar.

Negosiasi antara dua ekonomi terbesar di dunia sempat terhenti, sehingga para pelaku pasar dan analis memperingatkan bahwa resolusi pada KTT G20 masih jauh dari pasti. Namun, pasar tampaknya berpegang pada harapan kemajuan dalam pertemuan antara Trump dan Xi Jinping di Osaka.

Hal tersebut tercermin dalam pelonggaran penghindaran risiko setelah bursa saham AS naik dan yield obligasi Treasury melemah.

Trump berencana mengadakan pembicaraan perdagangan yang banyak ditunggu-tunggu dengan Xi pada pukul 11.30 waktu setempat (09.30 WIB) pada hari Sabtu.

"Pergerakan pasar menunjukkan berkurangnya kekhawatiran terhadap pertemuan AS-China, tetapi hasil pertemuan harus sesuai dengan harapan agar dolar dan aset berisiko menguat," kata Junichi Ishikawa, analis valuta asing senior di IG Securities, seperti dikutip Reuters.

"Jika hasil pertemuan di bawah ekspektasi, hal itu akan menimbulkan reaksi besar ke arah yang berlawanan,” lanjutnya.

AS dan China telah memberlakukan tarif impor hingga 25% untuk ratusan miliar dolar dari barang masing-masing dalam perselisihan tentang praktik perdagangan China yang telah berlangsung hampir setahun.

Perang dagang yang berlarut-larut telah memperlambat pertumbuhan global dan mendorong banyak bank sentral ke arah pemotongan suku bunga untuk menopang ekonomi, sehingga setiap tanda berakhirnya perang dagang akan menjadi dorongan signifikan bagi prospek ekonomi global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top