Negosiasi Dagang AS China Kembali Dimulai, Logam Industri Reli

Harga logam industri mengalami reli penguatan bersamaan dengan aset berisiko lainnya akibat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk bertemu di sela-sela KTT G20 pekan depan untuk memulai kembali negosiasi perdagangan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  14:57 WIB
Negosiasi Dagang AS China Kembali Dimulai, Logam Industri Reli
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Harga logam industri mengalami reli penguatan bersamaan dengan aset berisiko lainnya akibat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk bertemu di sela-sela KTT G20 pekan depan untuk memulai kembali negosiasi perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (19/6/2019), di bursa Shanghai harga tembaga bergerak naik 1,19% menjadi 46.830 yuan per ton, sedangkan aluminium bergerak naik 0,43% menjadi 13.855 yuan per ton.

Sementara itu, pada perdagangan Selasa (18/6/2019) di bursa London, harga tembaga naik 1,78% menjadi US$5.949 per ton, aluminium naik 1,28% menjadi US$1,781 per ton, nikel naik 1,54% menjadi US$11.950 per ton, dan timah naik 1,16% menjadi US$19.170 per ton.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tim dari kedua belah pihak akan memulai persiapan bagi para pemimpinnya untuk duduk bersama di KTT G20 di Osaka, Jepang. Di saat yang sama, China juga mengkonfirmasi pertemuan tersebut.

"Baru saja melakukan percakapan melalui telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi dari China. Kami akan mengadakan pertemuan lanjutan minggu depan di KTT G20 di Jepang. Tim kami akan memulai pembicaraan sebelum pertemuan kami," tulis Trump melalui akun resmi twitternya, Rabu (19/6/2019).

Adapun, pada Mei, Trump kembali menaikkan tarif impor produk China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25% dan mengancam akan menaikkan tarif impor untuk sisa produk lainnya senilai US$300 miliar.

China pun membalas dengan menaikkan kembali tarif impor produk AS senilai US$60 miliar.

Eskalasi perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut pun membayangi pertumbuhan ekonomi global.  Sentimen tersebut membebani mayoritas harga logam industri di tengah proyeksi permintaan yang melemah akibat perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, pada perdagangan kali ini prospek berakhirnya kebuntuan perdagangan selama sebulan disertai dengan sentimen tertekannya pasokan beberapa logam sehingga mendukung harga.

Tembaga berhasil naik di tengah kekhawatiran tentang gangguan pasokan berkepanjangan dari salah satu tambang Codelco di Chili. 

Bentrokan keras antara pekerja yang melakukan protes dan polisi menandai hari kelima kerusuhan di tambang Chuquicamata di Chili, memicu spekulasi bahwa meningkatnya ketegangan akan membuat serikat pekerja dan Codelco yang dikelola pemerintah tidak mencapai kesepakatan buruh untuk mengakhiri mogok kerja.

Freeport McMoRan Inc. mengatakan bahwa sementara permintaan tembaga tangguh dalam menghadapi perang perdagangan global, konflik yang berkepanjangan dapat merusak investasi di industri pada saat penggunaan logam meningkat.

"Walaupun demikian, meski dibayangi ketidakpastian, perusahaan tetap cukup positif terkait dengan prospek tembaga," tulis Freeport seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (19/6/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logam industri, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top