Meneropong Prospek Emiten Perkebunan Milik Grup Salim

Grup Salim memiliki dua emiten perkebunan yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.(LSIP).
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  07:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten perkebunan Grup Salim berpotensi tumbuh positif seiring proyeksi meningkatnya serapan CPO ekspor dan domestik.

Grup Salim memiliki dua emiten perkebunan yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.(LSIP). SIMP menjadi induk dari LSIP mampu membukukan peningkatan penjualan senilai Rp3,35 triliun, naik 5,3 persen secara tahunan.

Analis Ciptadana Sekuritas Yasmin Soulisa mengungkapkan, produksi tandan buah segar (TBS) dari SIMP mencapai 745.000 ton, dimana terjadi kenaikan 7 persen secara tahunan, dengan produksi CPO tumbuh 4 persen menjadi 192.000 ton. Bila dibandingkan dengan kuartal IV, maka produksi TBS dan CPO turun 20 persen dan 26 persen.

Kendati begitu, produksi SIMP pada kuartal I/2019, masih sejalan dengan ekspektasi Ciptadana. Yasmin memproyeksikan, harga CPO pada 2019 mencapai 2.300 ringgit per ton.

Yasmin pun memproyeksikan ada penaikan harga CPO. Alasannya, pertama, produksi minyak sawit pada kuartal II/2019 lebih rendah. Kedua, peningkatan ekspor dan konsumsi domestik setelah adanya implementasi dari B20 dan meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa.

Ketiga, tingkat persediaan lebih rendah di Indonesia dan Malaysia setelah mencapai rekor tertinggi pada akhir tahun lalu. Sementara itu, Ciptadana Sekuritas merekomendasikan hold saham SIMP, dengan target harga Rp400 per saham.

Target pendapatan SIMP pada 2019 dan 2020 masing-masing senilai Rp15,5 triliun dan Rp15,7 triliun. Adapun target laba bersih SIMP pada 2019 dan 2020 masing-masing senilai Rp263 miliar dan Rp194 miliar, dengan price per earning (PER) masing-masing mencerminkan 23,8x dan 32,3x.

Adapun SIMP dan LSIP berada dibawah naungan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood Anthoni Salim mengakui bahwa harga CPO masih rendah. “Kami senang, dengan pencapaian kinerja yang positif diawal 2019, dengan pertumbuhan nilai penjualan dan keuntungan meskipun kondisi harga CPO masih rendah,” ungkapnya.

Anthoni menambahkan, perseroan berupaya menjaga keunggulan kompetitif dan pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, LSIP membukukan laba bersih senilai Rp39 miliar. Adapun produksi tandan buah segar LSIP pada kuartal I/2019 senilai 409.200 ton atau naik 7,3 persen year on year. Produksi CPO pada kuartal I/2019 mencapai 95.800 tons atau naik 7,9 persen year on year.

“Secara musiman, produksi CPO pada semester II berpotensi lebih tinggi dibandingkan dengan semester I. Kami ekspektasikan, produksi CPO bakal meningkat pada kuartal II,” tulisnya dalam riset, medio Mei 2019.

Dia memprakirakan laba LSIP pada 2019-2020 masih mungkin untuk direvisi, sejalan dengan asumsi dalam waktu. Andy memproyeksikan target harga LSIP pada tahun ini mencapai Rp1.310.

Andy memproyeksikan, pendapatan LSIP pada 2019 dan 2020 masing-masing senilai Rp3,8 triliun dan Rp3,9 triliun. Sementara itu, proyeksi laba kotor pada 2019 dan 2020 masing-masing Rp845 miliar dan Rp897 miliar, masing-masing bakal naik sekitar 23,7 persen y-o-y dan 6,2 persen y-o-y.

Untuk proyeksi laba bersih LSIP menurut Andi pada 2019 dan 2020 yakni Rp427 miliar, atau naik 30,3 persen secara tahunan dan Rp462 miliar atau naik 8,3 persen secara tahunan.

Dia menilai, keunggulan yang dimiliki oleh LSIP adalah neraca keuangan yang sehat, bila dibandingkan dengan emiten-emiten CPO yang di-cover.

Dalam riset terpisah, analis OCBC Sekuritas Febry Thiodor mengungkapkan, merekomendasikan netral sektor perkebunan, akan tetapi menjadi LSIP sebagai top pick dengan rekomendasi beli, target harga Rp1.400 per saham.

Dia memprakirakan, pendapatan LSIP pada 2019 bakal mencapai Rp4,57 triliun. Sementara itu, laba bersih dan laba per saham (EPS) LSIP masing-masing berpotensi mencapai Rp528 miliar dan Rp77,5 per saham.

Febry memproyeksikan, kondisi industri CPO masih belum akan pulih pada 2019. Konsumsi CPO di China masih akan tetap tinggi, dimana peningkatan produksi. Selain itu, India juga mengalami peningkatan produksi minyak nabati, dan juga direncanakan untuk membatasi impor pada tahun ini.

Selain itu, kombinasi dari produksi kedelai global yang tinggi dan carry over stok yang tinggi karena perang dagang akan memberikan tekanan harga minyak sawit.

Dalam penutupan perdagangan Selasa (28/5/2019), harga CPO untuk kontrak Agustus 2019 senilai 2.066 ringgit /ton, naik 41 poin. Febry melihat, bakal ada kejutan negatif dari produksi Malaysia terkait dengan pengiriman CPO, dengan harga pengiriman di atas 2.300 ringgit per ton pada kuartal III/2019.

Malaysia Palm Oil Board (MPOB) memproyeksikan harga minyak sawit akan berada pada kisaran 2.050--2.300 per ton pada kuartal III/2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sawit, salim ivomas, grup salim

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top