Rekomendasi Saham : Harga Saham Alfamart (AMRT) Berpotensi Merosot?

Menjelang Ramadan, kinerja saham minimarket PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. dengan brand Alfamart mulai merangkak naik. Lihat saja, dalam enam bulan terakhir, berhasil naik 17,42% menuju level Rp910 per saham.
Rekomendasi Saham : Harga Saham Alfamart (AMRT) Berpotensi Merosot? Novita Sari Simamora | 27 Mei 2019 05:09 WIB
Rekomendasi Saham : Harga Saham Alfamart (AMRT) Berpotensi Merosot?
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk di Kantor Pusat Alfamart Tangerang, Kamis (16/05/2019). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjelang Ramadan, kinerja saham minimarket PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. dengan brand Alfamart mulai merangkak naik. Lihat saja, dalam enam bulan terakhir, berhasil naik 17,42% menuju level Rp910 per saham.

Namun, kalangan analis memproyeksikan harga saham AMRT berpotensi bergerak turun. Sejalan dengan itu, analis merekomendasikan hold saham AMRT, berikut ulasannya.

Analis PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia Hadi Soegiarto dan Nadia Amalia memproyeksikan laba bersih AMRT pada 2019-2021 disesuaikan untuk pertumbuhan biaya yang lebih tinggi dari yang diharapkan karena AMRT melakukan lebih banyak layanan digital di toko-tokonya. 

"Kami mempertahankan peringkat hold, karena kami pikir valuasi AMRT untuk P/E pada 2019 pada level 44x sudah melampaui puncak historisnya," katanya melalui riset.

Ini sebagian didorong oleh kerja sama AMRT dengan startup e-commerce, seperti Gojek melalui e-wallet Gopay dan JD.com yang baru-baru ini memberikan pinjaman tanpa bunga kepada AMRT. Kondisi ini pada akhirnya akan mengarah pada income fee yang lebih tinggi, mungkin lebih besar dari keuntungan bisnis minimarket AMRT.

Potensi risiko yang mungkin dihadapi oleh AMRT yakni adanya biaya monetisasi dari kerja sama dengan startup. Namun, pertumbuhan rata-rata penjualan tiap toko (same store sales growth/SSSG) AMRT berpotensi meningkat, karena adanya program tersebut.

Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia memproyeksikan, harga saham AMRT hingga akhir 2019 turun menjadi Rp870 per saham.

Terpisah, Samuel Sekuritas Indonesia menuliskan dalam riset bahwa berbagai strategi dilakukan peritel modern untuk memperkuat kinerja mulai dari penutupan gerai yang kurang produktif hingga mereformasi format gerai untuk menjaga laba. 

Pada tahun ini, AMRT memproyeksikan pertumbuhan rerata penjualan per toko mencapai 5% 2019. Menurut Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Sumber Alfaria Trijaya Tomin Widian mengatakan, pertumbuhan ritel pada 2018, mengalami peningkatan. 

Sebab, hal itu sejalan dengan Survey Nielsen yang menunjukkan pertumbuhan minimarket di level 7,8% selama 2018, lebih baik dibandingkan dengan 2017 dimana tingkat pertumbuhan ada di level 6,4%.

AMRT juga berencana untuk mengalokasikan belanja modal senilai Rp2 triliun untuk membuka 500 gerai baru. Selain membuka gerai baru, belanja modal tersebut akan digunakan untuk memperpanjang masa sewa dan merenovasi gerai.

Pada 2019, AMRT memproyeksikan pertumbuhan pendapatan bakal berada pada kisaran 8%-10%. Proyeksi minimarket ini lebih rendah dari proyeksi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia mencapai 12%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alfamart, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top