Laba Semen Baturaja (SMBR) Terus Tertekan, Ini Penjelasan Manajemen

Laba PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., emiten produsen semen, terus tertekan sejak 2017 hingga kuartal I/2019, meski penjualan tercatat naik. Manajemen perseroan menjelaskan laba yang tertekan pada 2018 karena adanya biaya bunga kredit investasi pabrik Baturaja II. 
Azizah Nur Alfi | 16 Mei 2019 17:16 WIB
Direktur Utama PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, Jobi Triananda Hasjim (tengah), saat perayaan HUT Perusahaan ke-44 di Palembang, Rabu (21/11/2018) malam. - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, JAKARTA - Laba PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., emiten produsen semen, terus tertekan sejak 2017 hingga kuartal I/2019, meski penjualan tercatat naik. Manajemen perseroan menjelaskan laba yang tertekan pada 2018 karena adanya biaya bunga kredit investasi pabrik Baturaja II. 

Berdasarkan laporan tahunan 2018, emiten dengan kode saham SMBR ini membukukan laba bersih sebesar Rp76,07 miliar pada 2018, turun 48,12% dibandingkan dengan laba bersih 2017 sebesar Rp146,64 miliar. Laba bersih 2017 juga turun 43,40% jika dibandingkan dengan laba bersih 2016 sebesar Rp259,09 miliar. 

Pada kuartal I/2019, laba bersih perseroan sebesar Rp 4,13 miliar, turun 67,40% dari laba periode sama tahun sebelumnya Rp 12,67 miliar.

Vice President Corporate Secretary Basthony Santri menjelaskan, laba yang tertekan pada tahun lalu karena adanya biaya bunga kredit investasi pabrik Baturaja II dan bunga pinjaman MTN. 

Meski demikian, perseroan berhasil meningkatkan efisiensi produksi dengan peningkatan EBITDA margin sebesar 18%, meskipun harga bahan baku dan penolong seperti batu bara dan lainnya naik. 

"Laba tertekan karena bunga kredit investasi dan MTN yang kami pinjam untuk pembangunam pabrik Baturaja II. Namun, secara kinerja masih positif," katanya, Kamis (16/5/2019). 

Pada 2019, SMBR mengincar penjualan bersih dapat meningkat sebesar 37% atau sebesar Rp2,73 triliun. Optimisme ini didukung dari target volume penjualan semen sebesar 2,75 juta ton atau naik 26% dari realisasi volume penjualan pada 2018 sebesar 2,19 juta ton. 

Pendapatan juga akan disumbang dari penjualan terak yang ditargetkan menjadi 200.000 ton atau naik 176% dari realisasi 2018 sebesar 72.552 ton. Dari sisi profitabilitas, perseroan menargetkan laba usaha meningkat sebesar 69% menjadi Rp418,43 juta. 

"SMBR optimis dapat menjaga pertumbuhan volume penjualan seiring dengan besarnya kue market share di wilayah perseroan. Demand untuk wilayah pemasaran di Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung pada 2018 mencapai 6,9 juta ton. Sehingga kami optimis target 2,75 juta ton dapat tercapai," terang Direktur Utama Semen Baturaja Jobi Triananda Hasjim dikutip dari laporan tahunan SMBR 2018. 

Selain itu, perseroan akan terus berusaha menjaga pertumbuhan volume penjualan di atas 20% yang pada 2019 ditargetkan mencapai 2,75 juta ton atau tumbuh 26% dibanding 2018 sebesar 2,19 juta ton.

Pada perdagangan Kamis (16/5/2019), saham SMBR melemah 7,09% ke level Rp655 atau turun 50 poin. Secara year to date, saham SMBR telah melemah 62,57%. 
 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, semen baturaja

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup