Rupiah Terdepresiasi ke Level Rp14.423 per dolar AS, Ini Penyebabnya

Rupiah ditutup terdepresiasi pada perdagangan Senin (13/5/2019) di level Rp14.423 per dolar AS diterpa katalis negatif baik dari eksternal maupun sentimen internal dalam negeri.
Finna U. Ulfah | 13 Mei 2019 16:39 WIB
Warga menunjukkan uang rupiah pecahan kecil di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/5/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah ditutup terdepresiasi pada perdagangan Senin (13/5/2019) di level Rp14.423 per dolar AS diterpa katalis negatif baik dari eksternal maupun sentimen internal dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (13/5/2019), rupiah melemah 0,666% atau terdepresiasi 97 poin menjadi Rp14.423 per dolar AS. Rupiah melemah pada saat mayoritas mata uang Asia juga tidak mampu melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa katalis negatif dari dalam negeri masih berasal dari rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Jumat pekan lalu.

Bank Indonesia mencatat NPI berhasil membukukan surplus senilai US$2,4 miliar pada kuartal I/2019. Namun, transaksi berjalan, yang merupakan bagian dari NPI, membukukan defisit senilai US$ 7 miliar pada 3 bulan pertama tahun ini atau setara dengan 2,6% dari PDB.

Transaksi berjalan kuartal I/2019 lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu senilai US$5,19 miliar atau 2,01% dari PDB. "Jika defisit di awal tahun saja sudah lebih lebar, maka ada potensi bahwa defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2019 juga akan melebar. Praktis, rupiah menjadi kehilangan pijakan untuk menguat," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (13/5/2019).

Sementara itu, sentimen eksternal untuk laju mata uang garuda masih disebabkan oleh eskalasi perang dagang antara AS dan China.

Kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut berada di jalan buntu atas negosiasi perdagangan ketika AS menuntut janji perubahan konkret terhadap kebijakan dagang China dan Negeri Panda tersebut mengatakan, tidak akan menelan "buah pahit" yang merusak kepentingannya.

Para pejabat AS diprediksi mengumumkan perincian rencana untuk mengenakan tarif 25% pada semua impor yang tersisa dari China sekitar US$300 miliar dalam perdagangan pada Senin (13/5/2019) waktu Amerika.

Selain itu, penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kemungkinan akan bertemu pada pertemuan puncak G20 di Jepang pada akhir Juni dan membahas perdagangan.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.400 per dolar AS hingga Rp14.470 per dolar AS pada perdagangan Selasa (14/5/2019) sebagai imbas dari sentimen eksternal dan internal yang cukup kuat.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup