Perang Dagang Berlanjut, Yen Masih Diburu Investor

Yen melanjutkan penguatan seiring dengan kecenderungan investor untuk mencari aset perlindungan di tengah kekhawatiran perdagangan antara AS dan China terlalu kompleks untuk diselesaikan dalam waktu sebulan. 
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  14:40 WIB
Perang Dagang Berlanjut, Yen Masih Diburu Investor
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Yen melanjutkan penguatan seiring dengan kecenderungan investor untuk mencari aset perlindungan di tengah kekhawatiran perdagangan antara AS dan China terlalu kompleks untuk diselesaikan dalam waktu sebulan. 

Melansir Bloomberg, AS mengatakan kepada China bahwa mereka memiliki waktu sebulan untuk mengamankan kesepakatan perdagangan atau menghadapi tarif pada semua ekspornya. Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga mengklaim pemerintah Presiden China Xi Jinping telah mundur dari perjanjian.

Mayank Mishra, ahli strategi makro Standard Chartered Bank di Singapura, mengatakan bahwa pasar menjadi kurang optimistis terhadap negosiasi perdagangan AS-China, setelah beberapa laporan berita dari media pemerintah China menyarankan sikap yang lebih keras kepada AS.

"Risiko ketegangan perdagangan AS-China yang berlarut-larut dapat membebani USD/JPY dalam jangka pendek," ujar Mayank seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (13/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (13/5/2019) pukul 14.02 WIB, yen menguat 0,19% ke level 109,74 yen per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut memperpanjang kenaikan setelah membatasi kenaikan mingguan keempatnya terhadap dolar AS pada Jumat (10/5/2019).

Seperti yang diketahui, AS telah menaikkan tarif lebih dari US$200 miliar untuk barang-barang China pada pekan lalu dan China, berjanji untuk membalas kebijakan tersebut.

Ketegangan perdagangan AS dan China yang kembali muncul sebelum pertemuan AS dan China di Washington pada pekan lalu menyebabkan penguatan yen sebesar 1%. Mata uang Negeri Jepang tersebut menyentuh 109,47 yen per dolar AS pada Kamis (9/5/2019), tertinggi sejak Februari.

Donald Trump mengatakan bahwa persyaratan perdagangan akan jauh lebih buruk jika China tidak bertindak sekarang. Menurut Direktur Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, China telah mengundang delegasi AS kembali ke Beijing untuk melakukan negosiasi, tetapi belum menetapkan tanggal dan detail lebih lanjut.

Terdapat tiga poin utama dalam pertikaian antara China dan AS. Selain perlunya penghapusan tarif tambahan, Wakil Perdana Menteri Liu He juga mengatakan target yang ditetapkan AS untuk pembelian China harus sejalan dengan permintaan riil. Tidak hanya itu, teks kesepakatan harus seimbang untuk memastikan martabat dari kedua negara.

Sementara itu, eskalasi ketegangan perdagangan antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu membuat para trader meningkatkan taruhan pada penurunan suku bunga dari Federal Reserve yang akan membebani indeks dolar AS.

Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan 6 mata uang mayor bergerak menguat 0,01% menjadi 97,338.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yen, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top