Negosiasi AS dan China Deadlock, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/5/2019) seiring dengan eskalasi sengketa perdagangan antara AS dan China.
Finna U. Ulfah | 13 Mei 2019 09:04 WIB
Cash Pooling

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/5/2019) seiring dengan eskalasi sengketa perdagangan antara AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pembukaan perdaganan Kamis (13/5/2019), rupiah melemah 0,1% atau terdepresiasi 15 poin menjadi Rp14.335 per dolar AS. 

Dua negara ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, berada di jalan buntu atas perundingan perdagangan pada Minggu ketika AS menuntut janji perubahan konkret terhadap kebijakan dagang China dan Negeri Panda tersebut mengatakan, tidak akan menelan "buah pahit" yang merusak kepentingannya.

Konflik perdagangan telah meningkat pada Jumat, dengan Amerika Serikat menaikkan tarif impor 25% untuk barang-barang China senilai US$200 miliar.

China pun telah berjanji untuk membalas kenaikan tarif tersebut, tetapi belum memberikan perincian.

Masafumi Yamamoto, kepala strategi valas di Mizuho Securities di Tokyo, mengatakan bahwa di tengah konflik perdagangan AS China, reaksi keseluruhan mata uang sesungguhnya bergerak secara terbatas.

"Hal tersebut dikarenakan ada juga faktor yang mendukung harapan adanya penyelesaian akhir perang dagang, yaitu kemungkinan pertemuan presiden kedua negara di G20," ujar Masafumi seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/5/2019).

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kemungkinan akan bertemu pada pertemuan puncak G20 di Jepang pada akhir Juni dan membahas perdagangan.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I/2019 telah membebani pergerakan rupiah.

Bank Indonesia mencatat NPI surplus US$2,4 miliar dan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) adalah US$7 miliar atau 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Memang benar defisit transaksi berjalan lebih rendah ketimbang kuartal IV/2018 yang mencapai 3,6% dari PDB. Namun, dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu, defisitnya membengkak karena pada kuartal I/2018 berada di 2,01% dari PDB," ujar Ibrahim kepada Bisnis.com.

Pada perdagangan pekan ini Ibrahim memprediksi rupiah akan ditransaksikan di level Rp14.275 per dolar AS hingga Rp14.430 per dolar AS.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup