Trauma Perjanjian Dagang AS-China, Investor Ramai-Ramai Buru Obligasi

Trauma perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak luar biasa pada pasar modal global selama sepekan terakhir.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  16:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Trauma perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak luar biasa pada pasar modal global selama sepekan terakhir.

Semakin banyak investor yang menghindari aset-aset berisiko seperti saham dan memburu aset-aset safe haven (lindung nilai) macam emas dan obligasi.  

Menurut Bank of America Merrill Lynch (BAML), nilai arus modal keluar dari pasar dalam sepekan terakhir telah mencapai US$20,5 miliar atau sekitar Rp294,11 triliun (Kurs Tengah BI Rp14.347 per dolar AS).  

“Trauma perjanjian perdagangan mendorong lebih banyak aliran dana ke obligasi,” terang Bank of America Merrill Lynch pada Jumat (10/5/2019), seperti dilansir Reuters.

Ini menjadi tanda terbaru tentang bagaimana meningkatnya ketegangan perdagangan global telah mengguncang pasar keuangan dalam sepekan terakhir.

“Aliran uang tunai yang meninggalkan saham sepanjang pekan hingga 8 Mei adalah aliran keluar terbesar ketiga sepanjang tahun ini,” lanjut BAML, seperti dikutip Reuters.

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk memberlakukan tarif impor lebih lanjut pada barang-barang asal China, sekaligus mendorong eskalasi tensi perdagangan yang berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

“Pasar modal AS telah membukukan aliran dana keluar sebesar US$14 miliar, terbesar sejak 30 Januari,” ungkap pakar strategi di BAML, mengutip data dari spesialis pelacakan aliran dana EPFR.

Para investor serta merta mencari perlindungan dari dampak konflik perdagangan tersebut dengan terus memompa dana mereka ke dalam obligasi.

Dalam sepekan terakhir, arus masuk dana untuk obligasi mencapai nilai US$7,3 miliar, aliran masuk pekan ke-18 berturut-turut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar modal, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top