Ini Strategi Emiten Batu Bara untuk Menjaga Keuntungan

Sejumlah emiten sektor batu bara meracik taktik menjaga profitabilitas di tengah tren penurunan harga batu bara yang dinilai telah berimbas terhadap kinerja kuartal I/2019.
M. Nurhadi Pratomo | 09 Mei 2019 10:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten sektor batu bara meracik taktik menjaga profitabilitas di tengah tren penurunan harga batu bara yang dinilai telah berimbas terhadap kinerja kuartal I/2019.

Dari sejumlah emiten produsen dan kontraktor pertambangan yang telah melaporkan kinerja keuangan kuartal I/2019, mayoritas mengalami penurunan laba bersih. Bahkan, terdapat perseroan yang harus berbalik rugi per akhir Maret 2019.

Pertumbuhan laba bersih tercatat hanya dibukukan oleh sejumlah emiten. Sebagai contoh, PT Adaro Energy Tbk. yang masih mampu membukukan kenaikan laba bersih 59,60% dari US$74,43 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$118,79 juta pada kuartal I/2019.

Selain Adaro Energy, emiten produsen batu bara PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk. juga membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada kuartal I/2019. Jumlah yang dikantongi naik 853,79%  dari Rp1,32 miliar pada kuartal I/2018 menjadi Rp12,59 miliar pada kuartal I/2019.

Nasib lebih baik dialami oleh emiten sektor kontraktor pertambangan batu bara. Pasalnya, beberapa di antaranya masih membukukan pertumbuhan laba bersih per akhir Maret 2019.

PT Petrosea Tbk. misalnya, membukukan pertumbuhan laba bersih 53,73% secara tahunan pada kuartal I/2019. Realisasi naik dari US$2,01 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$3,09 juta.

Di sisi lain, PT United Tractors Tbk., yang menjalankan lini bisnis kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara juga masih membukukan pertumbuhan laba bersih 20,62% secara tahunan pada kuartal I/2019.

Seperti diketahui, harga batu bara acuan (HBA) dilaporkan mencapai titik terendah sejak Agustus 2017 ke level US$81,86 per ton untuk posisi Mei 2019. HBA terbentuk dari empat indeks yakni Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Global Coal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 dengan bobot masing-masing 25%.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Suherman menjelaskan bahwa tren penurunan harga batu bara acuan juga berdampak terhadap penerimaan pendapatan perseroan. Akan tetapi, pihaknya menyebut telah menyiapkan strategi.

Emiten berkode saham PTBA itu menjalankan strategi meningkatkan penjualan batu bara kalori tinggi. Selain itu, perseroan juga menjaga beban biaya di level yang lebih efisien. “Strategi ini sudah diimpelementasikan dan terus dijaga pelaksanaannya,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (7/5/2019).

Sebagai catatan, laba bersih yang dikantongi PTBA turun 21,63% secara tahunan dari Rp1,45 triliun pada kuartal I/2018 menjadi Rp1,13 triliun pada kuartal I/2019. 

Sementara itu, Direktur PT Indika Energy Tbk. Azis Armand mengatakan pihaknya akan selalu melakukan review terhadap biaya produksi. Artinya, setiap komponen biaya diusahakan bertambah efisien. “Itu variabel-variabel yang ada dalam kontrol kami,” jelasnya.

Di lain pihak, Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menjelaskan bahwa harga batu bara memang tidak bisa diprediksi perseroan. Oleh karena itu, pihaknya terus menjalankan efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh rantai bisnis sehingga menghasilkan kinerja operasional yang solid.

“Kami optimistis bisa mencapai panduan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization [EBITDA] yang ditetapkan senilai US$1 miliar—US$1,2 miliar," ujarnya.

SAHAM

Secara terpisah, Analis Artha Sekuritas Juan  Harahap menilai realisasi emiten batu bara sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Pasalnya, tergerusnya laba bersih sejumlah emiten disebabkan karena tren harga komoditas tersebut.

Terkait tren harga komoditas itu ke depan, Juan memprediksi akan berada di bawah 2018. Hal itu disebabkan oleh uncertainty policy import dari China. “Masih belum ada katalis positif yang terlihat sejauh ini untuk sektor batu bara,” paparnya.

Kendati demikian, dia masih merekomendasikan saham Adaro Energy. Perseroan menurutnya memiliki diversifikasi dari thermal coal.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan menilai performa emiten batu bara pada kuartal I/2019 berada di bawah ekspektasi. Untuk produsen yang masuk ke dalam big caps, hanya ADRO yang membukukan pertumbuhan laba bersih sementara sisanya mengalami penurunan. “Penurunan disebabkan karena harga batu bara yang turun pada kuartal I/2019,” tuturnya.

Frankie menyebut pengetatan impor China terhadap batu bara Australia menjadi alasan dibalik lemahnya harga komoditas itu. Akan tetapi, kebijakan tersebut berpeluang berubah usai pemilihan umum Australia pada Mei 2019.  “Perubahan kebijakan ini bisa menjadi katalis positif untuk harga batu bara dunia," imbuhnya.

Dari sisi emiten, dia mengungkapkan saat ini emiten batu bara sudah berada di level valuasi yang menarik. Selain itu, pasar juga telah pricing in harga batu bara yang rendah terhadap harga saham emiten di sektor itu. “Jadi jika harga batu bara mengalami penguatan maka emiten batu bara juga akan perform dengan baik,” ujarnya.

Frankie menjadikan saham ADRO dan PTBA sebagai top picks sejalan dengan valuasi yang menarik. Target harga untuk ADRO berada di level Rp1.750 dan PTBA Rp4.200.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, kinerja emiten, harga batu bara

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup