Harga Acuan Masih Tertekan, Ini Strategi Produsen Batu Bara

Sejumlah emiten yang memproduksi batu bara menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga profitabilitas di tengah tren harga yang masih mengalami penurunan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  06:18 WIB
Harga Acuan Masih Tertekan, Ini Strategi Produsen Batu Bara
potensi batu bara Indonesia

Bisnis.com,JAKARTA— Sejumlah emiten yang memproduksi batu bara menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga profitabilitas di tengah tren harga yang masih mengalami penurunan.

Harga batu bara acuan (HBA) dilaporkan mencapai titik terendah sejak Agustus 2017 ke level US$81,86 per ton untuk posisi Mei 2019. HBA terbentuk dari empat indeks yakni Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Global Coal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 dengan bobot masing-masing 25%.

Head of Corporate Communication Division PT Adaro Energy Tbk. Febriati Nadira menjelaskan bahwa harga batu bara memang tidak bisa diprediksi perseroan.

Oleh karena itu, pihaknya terus menjalankan efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh rantai bisnis sehingga menghasilkan kinerja operasional yang solid.

“Kami optimistis bisa mencapai panduan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization [EBITDA] yang ditetapkan senilai US$1 miliar—US$1,2 miliar," ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (7/5/2019).

Sebagai catatan, pada 2019, ADRO menargetkan produksi batu bara di kisaran 54 metrik ton (mt) hingga 56 mt. Dari situ, EBITDA operasional diproyeksikan sekitar US$1 miliar hingga US$1,2 miliar.

Adapun, perseroan menganggarkan belanja modal US$450 juta hingga US$600 juta pada 2019.

Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Delta Dunia Makmur Tbk. Eddy Porwanto mengatakan penurunan HBA tidak berdampak terhadap perseroan. Pasalnya, kontrak yang diteken perseroan mengacu kepada ICI.

“Selama bulan April 2019 dan Mei 2019 [ICI] cenderung membaik," ujarnya.

Seperti diketahui, Delta Dunia Makmur bergerak dibidang kontraktor tambang. Emiten berkode saham DOID itu melaporkan total volume pengerjaan pengupasan lapisan penutup batu bara atau overburden removal (OB) sebesar 392,6 juta bcm sepanjang 2018. 

Sementara itu, total volume produksi batu bara sebesar 42,1 juta ton pada tahun lalu

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, kinerja emiten, adaro

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top