Kuartal I/2019 : Penjualan Vale Indonesia (INCO) Melemah

PT Vale Indonesia Tbk. membukukan penjualan sebesar US$126,4 juta sepanjang kuartal I/2019.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 24 April 2019  |  17:32 WIB
Kuartal I/2019 : Penjualan Vale Indonesia (INCO) Melemah
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. membukukan penjualan sebesar US$126,4 juta sepanjang kuartal I/2019, melemah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur INCO mengatakan bahwa capaian penjualan tersebut 36% lebih rendah dari penjualan pada kuartal IV/2018 dan 26% lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I/2018.

Kondisi itu disebabkan volume produksi dan harga realisasi rata-rata yang  juga lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Produksi kuartal I/2019 lebih rendah sekitar 36% dibandingkan produksi pada kuartal IV/2018 dikarenakan adanya kombinasi aktivitas pemeliharaan yang telah direncanakan terkait dengan Larona Canal Relining dan masalah-masalah di tanur listrik 4 yang tidak terencana.

“Kegiatan pemeliharaan ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memastikan kelangsungan operasional. Dikarenakan masalah-masalah di tanur listrik 4, produksi nikel dalam matte PT Vale direvisi menjadi 71.000 t -73.000 t tahun ini,” jelasnya melalui keterangan resmi, Rabu (24/4/2019).

Menurut Nico, tim operasi telah melakukan beberapa langkah dan memantau dengan  cermat kondisi tanur untuk memastikan bahwa perusahaan bisa melanjutkan operasi dengan aman. Selanjutnya, perusahaan juga tetap fokus untuk mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya.

Dari sisi beban pokok pendapatan INCO turun sebesar 21% dari US$189,8 juta  menjadi US$149,7 juta (year to date). Namun, beban pokok pendapatan per metrik ton nikel dalam matte meningkat sebesar 24% karena sekitar 50% dari biaya produksi adalah biaya tetap.

Namun, terlepas dari sejumlah tantangan yang masih dihadapi sepanjang tiga bulan berjalan tahun ini, perseroan masih mampu membukukan EBITDA yang positif sebesar US$4,0 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, vale indonesia tbk

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup