Iran Ingatkan Sanksi AS Bikin Pasar Minyak Bergejolak

Sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela telah membuat keseimbangan penawaran dan permintaan di pasar global pecah.
Dika Irawan | 15 April 2019 15:41 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela telah membuat keseimbangan penawaran dan permintaan di pasar global pecah.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh megingatkan bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi dari tekanan Washington kepada Teheran. “Harga minyak naik tiap hari. Hal itu menunjukkan pasar khawatir,” katanya, dilansir dari Reuters, Senin (15/4/2019).

Harga minyak telah meningkat lebih dari 30% tahun ini karena adanya pengurangan pasokan yang dipimpin oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sanksi AS terhadap eksportir minyak Iran dan Venezuela, ditambah meningkatnya konflik di anggota OPEC Libya.

Dia mengatakan, Venezuela dalam masalah. Rusia juga dikenakan sanksi oleh AS. Libya dalam kekacauan. Sebagian dari produksi minyak AS telah berhenti. Hal tersebut menunjukkan keseimbangan penawaran dan permintaan minyak sangat rapuh.

“Apabila AS memutuskan untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran, kerapuhan akan meningkat dengan cara yang tidak terduga,” katanya.

Dia menambahkan, salah satu konsekuensi dari tekanan AS terhadap Iran adalah kenaikan harga bahan bakar di Negeri Paman Sam. “Trump harus memilih apakah akan menambah tekanan pada Iran atau menjaga harga bahan bakar rendah di pompa bensin di Amerika,” katanya.

AS menerapkan kembali sanksi terhadap Iran pada November setelah menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 antara negara itu dan enam kekuatan dunia. Sanksi tersebut telah mengurangi separuh ekspor minyak Iran.

Presiden AS Donald Trump menjatuhkan sanksi itu dengan tujuan menghentikan ekspor minyak Iran, mencekik sumber pendapatan utama Teheran. Washington menekan Iran untuk membatasi program nuklirnya dan berhenti mendukung proksi militan di Timur Tengah.

OPEC dan sekutunya bertemu pada Juni untuk memutuskan apakah akan terus menahan pasokan. Meskipun pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi, dianggap tertarik untuk terus memotong, sumber-sumber dalam kelompok itu mengatakan, OPEC dapat meningkatkan produksi mulai Juli jika gangguan berlanjut di tempat lain.

Pemotongan pasokan kelompok produsen sebagian besar ditujukan untuk mengimbangi rekor produksi minyak mentah di Amerika Serikat.

Hingga pukul 15.10 WIB, harga minyak West Texas Intermediate melemah tipis 0,64% atau 0,41 poin ke posisi US$63,48 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent menguat 0,28% atau 0,20 poin ke posisi US$71,35 per barel. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga minyak mentah wti

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup