Cuaca di Pantai Gading Terganggu, Harga Kakao Menguat

Para petani kakao di Pantai Gading harap-harap cemas. Hujan yang mereka tunggu-tunggu sudah tiba, tetapi masih was-was bakal terganggu.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 11 April 2019  |  19:11 WIB
Cuaca di Pantai Gading Terganggu, Harga Kakao Menguat
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Para petani kakao di Pantai Gading harap-harap cemas. Hujan yang mereka tunggu-tunggu sudah tiba, tetapi masih was-was bakal terganggu.

Dilaporkan, curah hujan di atas rata-rata pada pekan lalu di sebagian besar wilayah negara penghasil kakao terbesar dunia itu bakal meningkatkan panen April-September.

Namun, angin yang kencang pada awal pekan ini mengkhawatirkan para petani akan mengganggu hujan. Sebab lahan mereka sudah berminggu-minggu dilanda kekeringan.

Pantai Gading kini tengah berada di musim hujan yang berlangsung dari pertengahan Maret hingga akhir Oktober. Hujan yang melimpah diperkirakan akan terjadi pada bulan ini.

Di wilayah barat Daloa, penghasil seperempat produksi kakao nasional, pera petani menyambut curah hujan. Mereka berharap hal itu bakal membantu polong kecil kakao tumbuh lebih besar.

“Kami masih membutuhkan curah hujan yang melimpah bulan ini agar polong dan kacang-kacangan [kakao] menjadi lebih besar dalam beberapa bulan ke depan. Dengan begitu, panen berjalan dengan baik,” kata Serge Nda yang bertani di dekat Daloa dikutip dari Reuters, Kamis (11/4/2019).

Data yang dikumpulkan oleh Reuters menunjukkan, curah hujan di Daloa, termasuk wilayah Bouafle, berada pada 24,1 milimeter (mm) pada minggu lalu.

Sementara, di wilayah barat Soubre, para petani mengatakan, banyak polong tengah matang di pohon berkat cuaca yang baik, tetapi angin kencang mengikuti hujan mengancam bunga dan buah muda.

“Anginnya sangat kencang, dapat membuat bunga dan buah muda kakao jatuh dari pohon dan mengurangi panen, ” kata petani Florent Beda.

Dia menuturkan, jika semuanya berjalan dengan baik, panen bakal lebih banyak pada Mei dan Juni. “Panen tidak akan berhenti sampai September,” katanya.

Di tempat lain, curah hujan di Soubre, yang meliputi wilayah Sassandra dan San Pedro, mencapai 26,5 mm pada minggu lalu.

Adapun di wilayah timur Abengourou, petani mengatakan, hujan turun sangat deras sehingga sulit mengeluarkan kakao dari perkebunan.

“Jalan menjadi tidak praktis, kami membawa kakao dengan hati-hati. Ada risiko kacang [kakao] akan menjadi sangat lembab, ” kata Etienne Yao, petani di dekat Aboisso.

Untuk curah hujan di Abengourou, termasuk wilayah Aboisso, berada pada 28,2 mm pada minggu lalu.

Curah hujan di atas rata-rata di wilayah selatan Agboville dan Divo, dan di daerah tengah Bongouanou dan Yamoussoukro, diyakini pula akan meningkatkan panen.

Berdasarkan data International Cocoa Organization ekspor kakao Pantai Gading pada Maret tahun ini mencapai 1,58 juta ton, atau naik 146.000 ton dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Sementara itu, produksi kakao Indonesia, berdasarkan data Kementerian Pertanian, dilansir dari Reuters, terlihat di angka 596.477 ton pada tahun ini. Jumlah tersebut naik tipis 2.644 dari 593.844 ton pada 2018.

Di sisi lain, harga kakao kontrak Juli 2019 di bursa Intercontinental Exchange (ICE) ditutup menguat 0,21% atau 5,00 poin di level US$2.423 per ton. Jumlah tertinggi sejak akhir tahun lalu yang mencapai US$2.416 per ton.

Dalam prospeknya untuk 2020, firma penyedia data Beroe, memproyeksikan, permintaan kakao diperkirakan naik 30% pada tahun depan. Akan tetapi cuaca yang tidak menguntungkan karena perubahan iklim dapat membahayakan pasokan biji kakao global. Demikian dikutip dari Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kakao

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top