Bursa Eropa Berakhir Flat di Antara Sinyal Resesi dan Brexit

Bursa Eropa berakhir cenderung flat pada perdagangan Rabu (27/3/2019), ketika penguatan saham bank dan otomotif diimbangi oleh pelemahan sektor teknologi dan layanan kesehatan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  06:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa berakhir cenderung flat pada perdagangan Rabu (27/3/2019), ketika penguatan saham bank dan otomotif diimbangi oleh pelemahan sektor teknologi dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data Reuters, indeks saham Stoxx 600 Eropa ditutup naik hanya 0,02%, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.

Indeks sempat melemah 0,4% sebelum mampu menguat 0,63% di tengah kekhawatiran resesi dan menjelang digelarnya voting di Parlemen Inggris untuk opsi Brexit.

Di London, indeks saham FTSE 100 turun secara marginal menjelang voting tentang serangkaian opsi untuk mengatasi kebuntuan politik soal Brexit. Masih belum jelas bagaimana, kapan, atau bahkan jika Inggris akan meninggalkan Uni Eropa.

Indeks saham di Frankfurt stabil, sedangkan indeks saham di Paris tergelincir 0,1%. Adapun indeks saham di Madrid mampu menguat 0,5% ditopang saham pemberi pinjaman.

Saham bank menguat 0,8% setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan dapat lanjut menunda kenaikan suku bunga dan kemungkinan mempertimbangkan langkah-langkah untuk memitigasi efek samping tingkat suku bunga di bawah nol (sub zero).

Sumber Reuters mengatakan langkah-langkah itu dapat mencakup apa yang disebut suku bunga deposito berjenjang yang akan membebaskan bank-bank sebagian dari membayar biaya tahunan sebesar 0,40% yang ditetapkan ECB atas kelebihan cadangan.

Saham Banco Santander, BNP Paribas, Lloyds yang naik antara 1,5% dan 2,2% berada di antara pendorong terbesar atas pergerakan indeks saham acuan di wilayah Eropa.

Di sisi lain, saham Swedbank turun hampir 12% dan merupakan penekan terbesar pada indeks, setelah Otoritas Kejahatan Ekonomi Swedia menyatakan sedang menyelidiki kantor pusatnya sebagai bagian dari investigasi mengenai kemungkinan pelanggaran peraturan perdagangan.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun tetap di bawah nol untuk hari keempat dan kurva imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap berinversi. Ini menjadi sinyal dari resesi sekaligus mengikis daya tarik aset berisiko.

"Kurva imbal hasil menjadi perhatian banyak pelaku pasar,” ujar Craig Erlam, analis pasar senior di Oanda, London.

"Investor sangat tegang sekarang dan meskipun kita telah melihat pemulihan yang sangat kuat dari aksi jual yang terjadi pada kuartal empat tahun lalu, kita masih belum menembus level tertinggi baru pada tahap ini,” lanjutnya.

Menurut Erlam, hal itu merepresentasikan kegelisahan pasar. Pada saat yang sama, langkah bank-bank sentral, yang berupaya mendukung ekonomi dan pasar, juga menegaskan kembali pandangan masyarakat bahwa ada pelemahan yang sangat nyata dalam prospek ekonomi dan bahwa sejumlah risiko yang lebih luas terhadap perekonomian tidak membaik.

Sementara itu, sektor otomotif berhasil rebound setelah melemah lima sesi berturut-turut sebelumnya. Saham Fiat Chrysler naik 2,6% setelah laporan Financial Times menunjukkan bahwa produsen mobil asal Prancis Renault sedang mempertimbangkan tawaran.

Saham Daimler AG juga naik hampir 2% ketika mendekati penjualan kepemilikan sebesar 50% untuk merek mobil kecilnya yakni Smart kepada Geely Automobile Holdings Ltd.

Di antara saham layanan kesehatan, saham NMC Health turun lebih dari 7%. Adapun sektor teknologi terpukul pemangkasan proyeksi penjualan pemasok Apple, Infineon.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa eropa

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top