Reli di Hari Kelima, Rupiah Masih Jadi yang Terkuat di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melanjutkan reli setelah ditutup menguat 48 poin atau 0,34 persen ke level Rp14.140 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  18:04 WIB
Reli di Hari Kelima, Rupiah Masih Jadi yang Terkuat di Asia
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya di perdagangan hari kelima berturut-turut terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (21/3/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melanjutkan penguatannya setelah ditutup menguat 48 poin atau 0,34 persen ke level Rp14.140 per dolar AS.

Rupiah sebelumnya dibuka dengan penguatan 83 poin atau 0,59 persen di level Rp14.105 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (20/3), rupiah ditutup terapresiasi 45 poin atau 0,32 persen di posisi Rp14.188 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.093-Rp14.140 per dolar AS.

Rupiah kembali mencatat penguatan terbesar di antara mata uang lainnya di Asia yang mayoritas juga menguat petang ini. Penguatan rupiah disusul oleh yen Jepang yang mengaut 0,27% dan won Korea Selatan yang menguat 0,24%.

Mata uang di Asia bergerak menguat setelah Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve menegaskan kembali sikap dovish-nya terhadap sejumlah kebijakan moneter pada FOMC Meeting yang berakhir Rabu malam.

Gubernur he Fed Jerome Powell mengatakan bahwa ekonomi dalam negeri tengah terkontraksi sehingga membuat pihaknya untuk berupaya menumbuhkan lapangan kerja secara maksimum dan stabilitas harga.

“Untuk mendukung tujuan-tujuan ini, Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga tetap di level 2,25 persen hingga 2,5 persen. Selain itu, Komite akan lebih bersabar untuk menentukan kebijakan kenaikan di masa depan untuk mendukung hasil tersebut,” ujar Powell seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (21/3/2019).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya dapat berdampak positif bagi nilai tukar rupiah.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) menyatakan dengan ditahannya Fed Fund Rate (FFR) pada tahun ini, berarti ada indikasi bakal berkurangnya tekanan global dalam setahun ke depan. Keputusan Federal Reserve tersebut juga dipandang sudah tepat jika melihat perkembangan kondisi perekonomian Negeri Paman Sam yang saat ini kondisinya sedang tidak bagus.

Bank Indonesia hari ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir hari ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bank sentral tetap mempertahankan BI 7DRR sebesar 6,00%, sedangkan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

“Keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomina khsusunya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," tegas Perry dalam paparan, Kamis (21/03/2019).

Perry mengungkapkan kebijakan suku bunga akan difokuskan pada stabilitas nasional dengan menempuh kebijakan lain yang lebih akomodatif untuk mendorong permintaan domestik.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,42 poin atau 0,44 persen ke level 96,181 pada pukul 17.35 WIB.

Pada perdagangan Rabu (20/3/2019), indeks dolar ditutup melemah 0,65 persen atau 0,622 poin di level 95,761. Namun indeks berupaya mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,160 poin atau 0,17 persen di level 95,921.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top