Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Baja Eropa Tahun Ini Diprediksi Tetap Melambat

Pertumbuhan permintaan baja Eropa diprediksi tetap melambat pada 2019 seiring dengan prospek ekonomi makro benua biru yang lebih lemah tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga akan membantu harga baja bergerak naik.
Ilustrasi: Penambangan bijih besi di Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh (21/4/2010)./Antara-Ampelsa
Ilustrasi: Penambangan bijih besi di Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh (21/4/2010)./Antara-Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan permintaan baja Eropa diprediksi tetap melambat pada 2019 seiring dengan prospek ekonomi makro benua biru yang lebih lemah tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga akan membantu harga baja bergerak naik.

Tidak hanya itu, sentimen lainnya, seperti tarif, kuota, perlambatan ekonomi di China sebagai negara eksportir utama, ketidakpastian Brexit, dan gangguan dalam pasokan bahan baku seperti bijih besi juga menjadi faktor harga baja akan melaju positif pada 2019.

Analis Bloomberg Intelligence Eily Ong mengatakan bahwa konsumsi baja global pada 2019 sesungguhnya diprediksi tetap meningkat moderat didorong oleh permintaan di luar China.

Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan konsumsi China melemah karena perlambatan ekonomi makro dalam negeri sebagai imbas panasnya perang dagang sepanjang tahun lalu.

"Namun, kami masih melihat adanya proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah di Eropa pada tahun ini yaitu sekitar 1% dibandingkan dengan tahun lalu," ujar Eily seperti dikutip dalam risetnya bertajuk Outlook Baja Eropa, Senin (11/3/2019).

Tren penurunan impor baja Eropa telah terjadi sejak kuartal IV/2018 dan diprediksi tetap berlanjut, terutama dari China, seiring dengan pembatasan impor baja hingga 2021 sebagai langkah perlindungan dari Komisi Eropa atau European Commission (EC). 

Komisi Eropa pada 17 Januari 2019 telah menyetujui pembatasan impor baja setelah pada Maret 2018, lalu menemukan produk baja yang di impor ke Uni Eropa telah meningkat tajam. Hal tersebut juga seiring dengan pembatasan pada pasar AS di mana tarif 25% dikenakan pada produk baja Eropa sejak 1 Juni 2018. 

Adapun, perlindungan yang dilakukan komisi Eropa untuk pasar baja mencakup lebih banyak dari 20 produk baja dengan kuota tarif di atasnya akan dikenakan bea 25%.

"Kami pikir Brexit juga mungkin membebani ekspor Tiongkok ke Eropa, terutama jika yuan menguat," papar Eily.

Di sisi lain, perusahaan produsen baja terbesar di dunia, ArcelorMittal, justru memprediksi permintaan baja pada 2019 cukup tinggi yaitu naik dengan kisaran 0,5% hingga 1% dari 2,9% jumlah permintaan baja pada 2018.

Hal tersebut didukung oleh kekuatan yang berkelanjutan dalam sektor konstruksi, permintaan otomotif yang stabil, dan beberapa pertumbuhan dalam permesinan.

"Di balik itu semua, kami tetap berharap produsen baja, termasuk ArcelorMittal, akan tetap fokus pada pengiriman produk baja premium untuk memperkuat posisi pasar mereka," ujar Eily.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (11/3/2019) harga baja di bursa Shanghai bergerak melemah 1,48% atau turun 56 poin menjadi US$554,312 per ton.

Di sisi lain, menurunnya proyeksi permintaan baja dinilai akan menggerus pendapatan produsen baja Eropa. Harga bahan baku yang lebih tinggi, termasuk bijih besi dan batu bara metalurgi, juga menjadi risiko pendapatan untuk pabrik baja Eropa.

Berdasarkan data Bloomberg, harga bijih besi telah melonjak 11,19% sejak awal 2019. Pada perdagangan Senin (11/3/2019) harga bijih besi di bursa Dalian melemah 2,51% menjadi US$89,385 per ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper