Efek Jokowi, Harga Karet Mengencang

Harga karet di bursa Tokyo berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Senin (11/3/2019), setelah Presiden Joko Widodo meminta jajarannya melakukan lebih banyak upaya guna membantu mengerek harga karet.
Renat Sofie Andriani | 11 Maret 2019 16:27 WIB
Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatra Selatan, Selasa (8/1/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Tokyo berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Senin (11/3/2019), setelah Presiden Joko Widodo meminta jajarannya melakukan lebih banyak upaya guna membantu mengerek harga karet.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Agustus 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) rebound dan ditutup naik 0,10% atau 0,20 poin di level 197,20 yen per kg dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (8/3/2019), harga karet kontrak Agustus berakhir melemah hampir 1% atau 1,90 poin di level 197 yen per kg, pelemahan hari perdagangan keempat beruntun.

Sebelum mampu rebound ke zona positif, harga karet sempat melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,56% atau 1,10 poin di posisi 195,90 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 197,60 – 198,00.

Sebagaimana diberitakan Bloomberg, dalam pernyataannya di situs web Sekretaris Kabinet pada Sabtu (9/3/2019), Jokowi mengatakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat harus membeli lebih banyak karet untuk kepentingan pembangunan jalan.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian dimintanya untuk mendukung lebih banyak pengolahan bahan baku itu di dalam negeri.

Presiden juga menyampaikan maksudnya itu dalam acara pertemuan dengan petani karet di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu.

Jokowi meminta karet supaya dipakai sebagai campuran aspal jalan di seluruh Indonesia untuk mendongkrak harga karet yang relatif rendah belakangan ini.

“Kebijakan pencampuran karet untuk aspal itu telah berlaku di tiga provinsi yaitu Riau, Sumatera Selatan dan Jambi. Setelah ini, kebijakan pencampuran karet untuk aspal akan berlaku di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia,” terang Jokowi, seperti dilaporkan Bisnis.com (Sabtu, 9/3).

Selain itu, Jokowi mengatakan pemerintah Indonesia bernegosiasi dengan pemerintah Thailand dan Malaysia untuk mengendalikan pasokan karet di pasar dunia. Dengan kebijakan pengendalian pasokan itu, harga karet diharapkan dapat berangsur naik.

Harga karet di Tokyo telah naik sekitar 16% sepanjang tahun ini setelah jatuh hampir 40% dalam dua tahun terakhir. Produsen karet top dunia, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia, bergulat menghadapi kelebihan suplai global dan telah sepakat untuk memangkas ekspor tahun ini.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Agustus 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

11/3/2019

197,20

+0,10%

8/3/2019

197,00

-0,96%

7/3/2019

198,90

-2,79%

6/3/2019

204,60

-0,49%

5/3/2019

205,60

-0,29%

Sumber: Bloomberg  

Tag : harga karet
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top