Data Ekonomi Beragam, Wall Street Tergelincir

Pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berakhir turun tipis pada perdagangan Selasa (26/2/2019), setelah sempat berfluktuasi saat investor mencermati data ekonomi AS yang menunjukkan beragam hasil.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  07:02 WIB
Data Ekonomi Beragam, Wall Street Tergelincir
Bursa AS - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berakhir turun tipis pada perdagangan Selasa (26/2/2019), setelah sempat berfluktuasi saat investor mencermati data ekonomi AS yang menunjukkan beragam hasil.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,08% atau 2,21 poin di level 2.793,9, indeks Dow Jones Industrial Average melandai 0,13% atau 33,97 poin di level 26.057,98, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir turun tipis 0,07% atau 5,16 poin di level 7.549,30.

Rilis data perumahan yang lebih lemah dari perkiraan kontras dengan laporan kepercayaan konsumen yang optimistis.

Data pembangunan rumah AS jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua tahun pada Desember 2018 karena menurunnya konstruksi perumahan tunggal dan multi keluarga. Ini menjadi tanda terbaru bahwa ekonomi telah kehilangan momentum pada kuartal keempat.

Kendati demikian, indeks kepercayaan konsumen Conference Board naik lebih dari yang diperkirakan pada bulan Februari 2019.

Sementara itu, di hadapan Komite Perbankan Senat AS, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral AS tersebut akan tetap bersabar dalam memutuskan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Menurut Powell, risiko yang meningkat dan data ekonomi yang lesu baru-baru ini seharusnya tidak mencegah pertumbuhan yang solid bagi perekonomian tahun ini.

Selama beberapa pekan terakhir, ketiga indeks tersebut telah didukung optimisme perdagangan dan sinyal dovish dari The Fed. Indeks S&P 500 hanya berselisih 4,7% dari rekor penutupan tertinggi pada September 2018.

“Investor sedikit tentatif. Mereka menunggu harga yang lebih baik atau berita yang lebih baik,” ujar Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading di Greenwich, Connecticut.

Ia menyebutkan isu-isu seperti kebutuhan detail hubungan perdagangan AS-China setelah Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Minggu (24/2) bahwa dia akan menunda kenaikan tarif AS untuk barang-barang China setelah berlangsungnya perundingan perdagangan yang produktif.

Sameer Samana, pakar strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute di St. Louis, juga menyebutkan ketidakpastian terkait laporan mengenai mantan pengacara pribadi Trump, Michael Cohen.

Cohen dikabarkan akan memberi tahu para anggota parlemen pekan ini bahwa Trump bertanya kepadanya tentang proyek pencakar langit yang diusulkan di Moskow, jauh setelah ia mengamankan pencalonannya sebagai Presiden AS dari Partai Republik.

“Anda memiliki ketidakpastian yang lebih tinggi hari ini dibandingkan kemarin. Data ekonomi beragam. Kita telah mengalami reli pasar selama sekitar dua bulan. Semua itu menunjukkan ini akan menjadi saat yang tepat untuk ambil untung,” ujar Samana.

Dari 11 sektor utama pada S&P, sebanyak tujuh di antaranya berakhir melemah. Sektor industri menjadi penekan terbesar dengan turun 0,3%. Adapun pendorong terbesar indeks acuan ini adalah indeks teknologi yang berakhir naik 0,2%.

Saham pada S&P yang mencatat penurunan terbesar adalah JPMorgan Chase & Co, yang ditutup turun 0,8% setelah memperingatkan kenaikan biaya untuk deposito, bagian penting dari bisnisnya, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Saham Home Depot Inc. menjadi salah satu penekan terbesar pada indeks S&P 500 setelah peritel perangkat rumah ini menyalahkan cuaca buruk untuk hasil yang meleset dari perkiraan Wall Street.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup