Yen Melorot & Pound Sterling Menguat, Ini Sentimen Penggeraknya

Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,11% atau 0,12 poin ke level 111,94 yen per dolar AS pada pukul 08.53 WIB, setelah ditutup di level 111,06 pada perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho | 26 Februari 2019 09:25 WIB
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Yen melemah pada perdagangan Selasa (26/2/2019), ke level terendahnya terhadap dolar AS tahun ini setelah optimisme atas negosiasi perdagangan China-AS meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,11% atau 0,12 poin ke level 111,94 yen per dolar AS pada pukul 08.53 WIB, setelah ditutup di level 111,06 pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan mata uang dolar AS terhadap mata uang utama lainnya terpantau berbalik menguat tipis meski hanya 0,003 poin ke level 96,416 pada pukul 08.52 WIB.

"Dolar telah bergerak dengan kuat ke kisaran 111 yen," kata Yukio Ishizuki, analis valas senior di Daiwa Securities, seperti dikutip  Reuters.

Dolar AS telah menguat lebih dari 0,3% terhadap yen pada hari Senin setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan menunda kenaikan tarif atas barang-barang impor China dan akan merencanakan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Florida, untuk menyimpulkan perjanjian.

Pelaku pasar juga tengah menanti data ekonomi yang dirilis menjelang akhir pekan untuk isyarat baru pada kesehatan ekonomi global, termasuk angka aktivitas manufaktur dari China dan AS dan data produk domestik bruto kuartal keempat AS yang direvisi.

Investor juga mencari petunjuk pandangan terbaru Federal Reserve mengenai ekonomi dan kebijakan moneter. Gubernur The Fed Jerome Powell akan bersaksi di hadapan Komite Perbankan Senat pada hari Selasa.

Powell dan pejabat The Fed lainnya telah mengindikasikan akan bersikap ‘sabar’ sebelum menaikkan suku bunga acuan menyusul tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, pound sterling melonjak ke level tertinggi sejak 31 Januari di tengah laporan bahwa Perdana Menteri Inggris Theresa May sedang mempertimbangkan untuk menunda tenggat waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Pound terpantau menguat 0,28% atau 0,0037 poin ke level US$1,3134 pada pukul 09.05 WIB.

PM May diperkirakan akan mengizinkan kabinetnya membahas perpanjangan batas waktu Brexit setelah 29 Maret pada sebuah pertemuan pada hari Selasa, menurut laporan Bloomberg News pada Senin (25/2).

Surat kabar Sun melaporkan May akan mengusulkan secara resmi mengesampingkan skenario “no-deal” Brexit yang berpotensi menyebabkan penundaan keluarnya Inggris dari Uni Eropa dalam hitungan bulan.

"Tampaknya May menyesuaikan diri dengan kenyataan seputar jadwal Brexit karena sudah lama diketahui bahwa memenuhi batas waktu 29 Maret akan sulit," kata Ishizuki.

"Pound naik terus, dan mungkin naik lebih jauh," tambahnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as, yen, pound sterling

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup