Isu Batu Bara Australia Tekan Sektor Industri Dasar, IHSG Melemah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (22/2/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  12:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (22/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG melemah 0,81% atau 52,69 poin ke level 6.485,07 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (21/2), IHSG berakhir di level 6.537,77 dengan penguatan 0,38% atau 24,98 poin. Indeks mulai tergelincir dari penguatannya ketika dibuka turun 0,30% atau 19,58 poin di posisi 6.518,19 pagi tadi.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.481,47 – 6.530,22.

Sebanyak 141 saham menguat, 200 saham melemah, dan 287 saham stagnan dari 627 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing turun 3,41% dan 1,58% menjadi penekan utama pergerakan IHSG siang ini.

Sementara itu, delapan dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor industri dasar (-1,85%) dan konsumer (-1,15%). Hanya sektor perdagangan yang menetap sendiri di zona hijau dengan kenaikan 0,74%.

Saham sejumlah emiten semen seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) yang masing-masing turun 2,90% dan 2,76% membawa sektor industri dasar menekan IHSG.

Menurut Fahressi Fahalmesta, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, ekspektasi kenaikan harga batu bara sebagai imbas dari laporan tentang larangan China terhadap impor batu bara Australia dapat memengaruhi produsen semen Indonesia.

“Mengingat penambang batu bara Indonesia diuntungkan potensi meningkatnya permintaan dari China, ini akan menciptakan sentimen negatif bagi perusahaan-perusahaan semen yang selama ini mengandalkan batu bara sebagai sumber energinya,” terang Fahressi, seperti dikutip Bloomberg.

Seperti diberitakan, para pedagang (trader) China menghentikan pembelian batu bara Australia karena lamanya waktu penyelesaian administrasi di pelabuhan menjadi 40 hari atau lebih.

Costum clearance atau proses administrasi pelabuhan yang biasanya memakan waktu 5 hingga 20 hari, kini bisa bertambah hingga 45 hari.

Tidak jelas mengapa China meningkatkan pemeriksaan impor dari Negeri Kangguru tersebut. Akan tetapi, ketegangan antara Beijing dan Canberra meningkat beberapa bulan terakhir, menyusul isu keamanan siber dan pengaruh China di negara-negara kepulauan Pasifik.

Kepada Reuters, seorang trader di Beijing mengatakan pembatasan impor dari Australia merupakan pertama kalinya Beijing mengekang impor dari negara tertentu tanpa alasan yang jelas.

Trader di Shanghai mengatakan telah berhenti membeli batu bara dari Australia dan mengalihkan pembelian komoditas itu lebih banyak ke Indonesia dan Rusia.

Sejalan dengan IHSG, indeks saham lainnya di kawasan Asia mayoritas juga bergerak negatif siang ini. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing turun 0,34% dan 0,29%, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,36%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melandai 0,25% pukul 12.14 WIB.

Adapun di China, dua indeks saham utamanya bergerak variatif, indeks Shanghai Composite naik tipis 0,03% sedangkan CSI 300 turun 0,09%.

Mayoritas bursa saham di Asia bergerak negatif mengikuti pelemahan yang dialami bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) pada Kamis (21/2) akibat terbebani memburuknya prospek ekonomi global.

Pesanan di pabrik-parbrik AS untuk peralatan bisnis secara tak terduga turun pada bulan Desember, penurunan keempat dalam lima bulan. Hal ini menunjukkan hilangnya momentum di tengah ketidakpastian soal perang dagang dengan China dan kondisi keuangan yang lebih ketat.

Di sisi lain, sektor swasta kawasan euro hampir tidak berkembang pada bulan Februari di tengah kemerosotan di bidang manufaktur yang memicu keresahan mengenai prospek ekonomi.

"Sentimen risiko kemungkinan dirugikan oleh data ekonomi yang mengecewakan saat prospek global meredup," ujar ekonom ING Groep NV Nicholas Mapa di Manila dan Prakash Sakpal di Singapura, dalam risetnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top